Rabu, 28 September 2011

Ujian Apoteker Part 3

Akhirnya masuk bagian praktek. setelah selesai ujian lisan (sidang) dan dipastikan lolos, diteruskan di ujian praktek. Sebenarnya agak sedih juga liat temen2 yang ga lolos ke tahap ujian praktek, apalagi ada beberapa nama yang jadi ketua-ketua untuk membantu kelancara ujian apoteker. Jadi ngerasa berdosa karena mungkin karena mengurusi kami-kami yang ujian apotker, mereka ga lulus.

meskipun ujian prakteknya masih jauh (pengumuman kelulusan agustus, sedangkan ujian praktek 20-an oktober), ternyata persiapannya bikin pusing. Selang sehari abis pengumuman, udah kumpul-kumpul lagi buat bahas bahan apa aja yang diperluin. dan ternyata disinilah letak kesulitan dimulai.

Pas kumpul2, baru nyadar klo steril itu ga kaya lab lain yang alat n bahan kebanyakan cuma untuk diri sendiri. Ternyata banyak uji-uji, kontrol ruangan, sterilisasi dan segala tetek bengek lain yang harus diurus bersama, dan perlu kerja sama dan komitmen yang kuat dari seluruh anggota lab steril.

Beruntung saat itu ada teh Adah yang pernah ikut tahun lalu (maaf, ga bermaksud menyinggung, maaf2 bila ditafsirkan "kami merasa bersyukur anda tak lulus kemarin), jadi kita bisa ngebayangin lab asteril itus eperti apa dan bakal kaya gimana. jadi hari itu dah dapet gambaran dan hitungan kasar bahan apa aja yang dibutuhin, dan beberapa tips2 dan koreksi cara ngitung kebutuhan bahan dari teh Adah. jadi hari itu dah dapet jumlah media, jumlah air(kasar), dan kebutuhan bahan seluruh kelompok, cuma alat yang kayaknya masih bingung2.

dan bisa dibilang, kumpul2 pasca pengumuman kelulusan itu berkisar soal kebutuhan alat dan bahan doang, sekalian coba2 bikin jurnal sendiri. Ternyata ngitung kebutuhan alat itu agak susah, mesti dibayangin gimana kita kerja nanti, dan alat ga cuma pas pembuatan, tapi juga untuk pembuatan media, digesti peptik, belum lagi bahas uji sterilitas itu sebenarnya berapa.

nah, tanggal 20-an agustus itu ketemuan ama bu Cici, nanyain sebenarnya kebutuhan bahan itu buat apa aja, dan ternyata buat uji sterilitas dan beberapa uji fisik aja, ada beberapa uji lain yang didispensasi, soalnya katanya waktunya ga cukup, dan pada minggu itu disuruh nyerahin formula bersama jumlah-jumlahnya untuk 1x pembuatan. terus, kita-kita juga dah mulai bagi2 tugas dan nentuin siapa jadi pj apa.

Waktu itu juga lab steril kedatangan temen baru (fang-fang)yang mulanya di lt 3, jadi yang asalnya 10 jadi 11, kebayang lagi kebutuhan membengkak dan waktu akan semakin mepet. Apalagi setelah kita tahu bahwa anak-anak analisis yang ngerjain potensi antibiotik juga akan memakan tempat di lab mikro dan memakai autoklaf, benar2 pusing dah. jadi kami, opik, fangfang, citta, janti, manyin, adah, nessa, achi, vidi, sari, dan Adah harus benar2 meras otak untuk hari H

Pas lebaran datang, diskusi-diskusi itu terhenti, dan kita2 agak bersantai dulu, meski terus terang soal itu kepikiran terus.

pas masuk, ok, mulai bahas soal kebutuhan alat dan bahan secara lebih pasti, dan udah mulai bahas soal juknis dan apa aja yang mesti dilakuin nanti pas hari-H. masih oingat hari sabtu dan minggu sebelum seminggu sebelum hari-H kita duduk di belakang comlabs buat bahas juknis. sabtu dari siang sampe maghrib, dan minggunya dari pagi sampai sore.

Kebayang kita2 dalam satu meja merapikan kebutuhan alat dan juknis sekaligus. maaf-maaf klo kita suka kacau soal kebutuhan alat, Rista, soalnya waktu itu benar2 takut klo ada yang kurang, dan cadangan pun kita cuma 3 orang, ga 2x orang. Trus yang bikin juknis sampai nentuin pj2 pembuatan dan pj otoklaf oven, itu, itu sulit dan rumitnya minta ampun, apalagi opik juga baru tahu harus ada acc-acc segala untuk to-takhir. Belum lagi kepkiran soal "harus nulis jurnal dulu sebelum kerja". wah jadi makin ribet deh.

Dan soal GJ-gj yang ga jelas juntrungannya itu, entah kenapa bisa tya pada saat itu opik munculin istilah kita dalam satu perahu, dan berawal dari situ muncullah grup rahasia "genk steril". Malah si fangfang ampe susah payah nemuin itu dari siapa sih. istilah perahu (dan kapal) itu.

ok, juknis dan alat beres, tapi apa kerjaan sebelum hari H beres? belum, soalnya sabtu minggu itu baru sekedar persiapan untuk seminggu sebelum ujian.

ya beli alatlah, beli kapaslah, beli ini, itu. mesen alat, bawa dari gudang, nyuci2, bungkus-bungkus, bikin sumbat botol, motong2 kertas. aduh, kayaknya kerjaannya dikit, tapi untuk ngerjain satu kerjaan dalam daftar itu perlu tenaga dan waktu yang cukup banyak, pas seminggu itu juga nyepakatin jurnal kita mau dibikin kaya gimana dan isinya apa aja, sama soal kemasan n printer.

Klo dipikir2, kayanya ga bisa deh itu semua dikerjain sendiri, dan opik beruntung banget dikelilingi dan melangkah bersama teman2 yang ga egois dan mentingin kepentingan kelompok dulu daripada diri sendiri. dan akhirnya hari H itupun tiba

Sabtu, 17 September 2011

Anime is for Kids

I've tinked about this, you can see many discussion and articles that point out Anime are not only for kids and those who refuse that the anime they're watching is a childish thing. Just google it.

But I've been thinking about the room for kids in the entertainment world for now. Especially in my country Indonesia where children entertainment such as songs, films, etc are becoming rare, although some pop up, but too many of them are more suitable for teenagers or adults, so it's something that are stuffed to children because there's nothing else.

OK, now back to the original topic. Let's see, if you screen through those anime chart's, what's going on right now and for some years back, we can see that anime for children is becoming more and more rare. Their stories have gone rather complex and too hard to understand for a child, and we get more fanservice and those shot's that kids aren't supposed to see. And it's not just that, some stories that first are targeted to kids get more complex after the beginning and then it isn't for kids anymore.

Why does this happen, are there no more room for kid's in anime, or is money more important. Anime are gonna lose one of their most important audience like this. Not only now, but also for the future. In my opinion, the anime nowadays tend to get more and more faraway from what that "can be accepted by general". Anime nowadays tend to be targeted to more smaller groups and many audience outside these groups tend to dislike it. Take an example of yuri, loli, harem, or those full fanservices anime. Or those with heavy anbd complex stories about conspiracy.

Can Kids Take them? BIg No. The old days anime that used to make kids dream and imagine for a brighter future are now rare. The Kids now can't watch what the kids from a generation behind them can watch. SO what do they watch? Must they watch those anime that aren't suited for them? like here in Indonesia where kids are dtuffed with Music and TV Programs for adult and teenagers. It's bad for their growth.

Once again, let us come back to the beginning, where cartoon and drawings for general were mostly meant to kids. Make the story simple but interesting, and they should have a moral behind the story too. Shield the kids from Fanservice, harem, blood, violence, the complex truth about life, and let them dream for a better future.

Senin, 05 September 2011

Why do we read Quran, even if we can’t understand a single Arabic word?

from
http://islamblog.org/post/312566228/why-do-we-read-quran-even-if-we-cant-understand-a
---------------------------------------

Found on the interwebs.

Why do we read Quran, even if we can’t understand a single Arabic word???? This is a beautiful story.


An old American Muslim lived on a farm in the mountains of eastern Kentucky with his young grandson. Each morning Grandpa was up early sitting at the kitchen table reading his Quran. His grandson wanted to be just like him and tried to imitate him in every way he could.
One day the grandson asked, “Grandpa! I try to read the Quran just like you but I don’t understand it, and what I do understand I forget as soon as I close the book. What good does reading the Qur’an do?”
The Grandfather quietly turned from putting coal in the stove and replied, “Take this coal basket down to the river and bring me back a basket of water.
The boy did as he was told, but all the water leaked out before he got back to the house. The grandfather laughed and said, “You’ll have to move a little faster next time,” and sent him back to the river with the basket to try again. This time the boy ran faster, but again the basket was empty before he returned home. Out of breath, he told his grandfather that it was impossible to carry water in a basket, and he went to get a bucket instead.
The old man said, “I don’t want a bucket of water; I want a basket of water. You’re just aganot trying hard enough,” and he went out the door to watch the boy try in.

At this point, the boy knew it was impossible, but he wanted to show his grandfather that even if he ran as fast as he could, the water would leak out before he got back to the house. The boy again dipped the basket into river and ran hard, but when he reached his grandfather the basket was again empty. Out of breath, he said, “See Grandpa, it’s useless!”
“So you think it is useless?” The old man said, “Look at the basket.”

The boy looked at the basket and for the first time realized that the basket was different. It had been transformed from a dirty old coal basket and was now clean, inside and out.
Son, that’s what happens when you read the Qur’an. You might not understand or remember everything, but when you read it, you will be changed, inside and out. That is the work of Allah in our lives.”

Senin, 29 Agustus 2011

Hukum Ekonomi di Farmasi (Economy Law in Pharmacy)

Well, even though some of the title are in Indonesian, but the post i want to write now will be english.

I surfed around the internet and stumbled upon jay pee's blog, and read this post : http://www.jimplagakis.com/?p=4552. Well Shortage of drug supplies because the profit from selling it is low (or even minus in some cases) has been common there. Can you believe up till 180 drugs are now rare? and these drugs are those older, lifesaving drugs.

Maybe non-health practitioners will start shouting about "where is the heart of those Health care provider/Practitioner" and especially directing there anger to those pharmaceutical Industry who seems to don't care about people lives. But we fa must face it, now the health care world (and also the world itself) is having a dilemma, and that is Money vs Care.

As someone who will be an Apotechary in a few months(if opik pass the exam), opik have looked into the profession. Isn't opening and running a pharmacy a business and also a care provider. But what matters the most? is it those metrics that show your lead time, inventory control, pricing, profit, effectivity, etc, or the care trhat you provide, the feeling you get whe you can solve a patient problem, the relief you get when someone ill gets healed?

It's frustating, more and more now, the pharmacy, whether it's industry, hospital, or in the pahrmacy are becoming "business only". Those vital drugs and service that shuldv'e been provided vanish. Rather, now we have 15 time limit (look at Kimia farma), discounts for pharmacy wrongness and many more.

But don't get us wrong, we need to do this toi survive, otherwise, we'll be Axed from the job, our place will go bankrupt, and the other consequences. So how do we compromise things?

Well, here are some example cases :

1. There was atime in the pharmacy that a patient wanted to buy one kind of the "Obat keras" group,Loperamide" which shouldn't be sold, and the pharmacist there know's she can't sell this, because the patient really doesn't need it yet. The problem is the profit, and a hardheaded patient. So the pharmacist suggests the patient to use Attapulgite and pectin instead (Which is a "obat bebas" can be sold freely witout a Rx), and counsel about the risk regarding loperamide. So she still gets some profit, and th patient have a better drug for his condition.


2. This is when i was in a pharmacy some time ago. As I watched, many Rx that contain patent or brand names was immediately switched to the generic (the cheapest drug, the form that has the INN name, not brand name). Then opik asked about why not give the patient to choose between the patent, brand and generic ones first, because giving a generic immediately will only gain very small profits and giving them the brand ones immediately are rather unethical. Well, we have to respect their choice don't we? This was done, and the profit became larger.

(in this case, if you don't know, in Indonesia, the generics USUALLY use those bad Ingrediaents (from India and China suppliers) and the Patent and brand name USUALLY uses good Ingredients (from europe and USA suppliers) even though this is not always the case, and the difference between good and bad can be very small, like one containing 20 mg, and the bad one only 19 mg)

3.Increasing Sale is not only the way to increase your profit. How many ofyten we stay the pharmacies get pumped out about increasing sales to increase the profit, until the "near death" state. but they can increase much larger just by asking larger imburstment rates from the insurance company, discussing a better contract with the PBF/distributors and companies at their service, and many more. Just don't focus on one are, widen you view friends!!!

So folks, what we are doing in this healthcare system is also a business, ofcourse we care about you, but you also must think about the costs and energy to provide that care. We're just human, we earn profits too, but we also wnat to do it in a good way. Newver ewver think something should be free because there will always be someone or some people paying for those free things.

That's all




Senin, 22 Agustus 2011

Trivia tentang farmasi ITB 2006

http://www.facebook.com/n/?groups%2F185502681517583%2Fdoc%2F190291681038683%2F&mid=4bd14dcG5af373378837G501b95G96&bcode=6am3Ymvm&n_m=opik_bidin%40yahoo.co.id

Trivia tentang 2006 yang tak jadi keluar saat acara buka bareng. COba di uji sedikit wawasan anda mengenai SF 2006 :)

1. Pada periode berapa hingga berapa Ilman menjabat sebagai Ketua Angkatan yang pertama?
2. Sudah berapa tahun kah Utus menjabat sebagai Ketua Angkatan?
3. Siapa saja yang pernah menjadi ketua Syukwis?
4. Ada berapa keajaiban cinta di SF06 merujuk pada koran angkatan?
5. Jumlah total 1 angkatan pada awal tahun ajar 2007 – 2008?
6. Kapan Pelantikan MPAB 2006?
7. Siapakah yang memiliki 3 NIM selama masa S1?
8. Apa mata kuliah yang pertama kali dialami oleh SF 06?
9. Siapakah yang memberikan kuliah umum saat sidang terbuka penerimaan mahasiswa baru 2006?
10. Mata kuliah yang praktikumnya bareng antara STF dan FKK?
11. Berapakah yang sudah menikah di SF06? Bagaimana urutannya?
12. Berapa orang yang keluar dari SF 2006 saat masa TPB?
13. Sebutkan penghargaan yang pernah didapat oleh SF 06 saat olimpiade TPB?
14. Sebutkan lirik yel-yel angkatan SF 2006?
15. Kapan SF 2006 jadi juara 1 HT?
16. Siapa yang berulang tahun tiap tanggal 17 Februari?
17. Siapakah Aku : Aku penghuni lantai 3. Berkantor di lantai 1. Spesialisasiku di bidang Farkin.
18.Siapakah Aku : Aku merupakan penghuni lantai 4. Aku bagian dari KK Farmol. Kemeja kotak-kotak dan celana jeans adalah setelanku.
19.Siapakah Aku : Aku penghuni lantai 2. Termasuk geng sepuh sayap barat. TTKI merupakan keahlian sampinganku.
20. Siapakah Aku : Aku terkenal dikalangan mahasiswa ITB. Aku dapat berada dimana saja. Donat merupakan ciri khasku.

Selasa, 16 Agustus 2011

Ujian Apoteker Part 3

hmm, persiapan yang sangat kurang, hanya membaca sekilas2 semua slide farmasi dan aturan2 baru yang mungkin ditanyakan, itulah persiapan opik menghadapi ujian lisan kali ini. Tebakannya sih ditanya2 di awal pasti tentang dosis.

tengah malam sebelum ujian, iseng2 buka facebook apoteker, eh, lima menit lalu si zulfan posting bahwa kita wajib bawa nametag dan jurnal. walah. langsung ngacir dari depan komputer dan bongkar2 buat nyari nametag. Untung sebagai orang yang suka menyimpan barang buangan di tempat yang layak, ketemu dengan cepat, ga kebayang yang lain yang kartunya dilepas dan dibuang begitu saja harus berbuat apa2.(masih bisa ngescan, motokopi dll sih)

wah, opik urutan pertama di ruang seminar lt 3. Berangkat jam 7 dari rumah dengan kemeja biru lengan panjang dan dasi yang juga biru, dan tak lupa jas hitam ikut serta. Sampai2 jam 7.45, ok, menuju lt 3, liat temen2 lain yang juga pada giliran pertama disana. Sambil menunggu giliran, opik berdiskusi dengan teman2 mengenai apa yang akan dihadapi di dalam.

Jam 8 tiba dan opik dipanggil masuk. opik menandatangani daftar hadir, lalu duduk di kursi. Di hadapan opik ada pak Ketut, Bu Cici, Pak Yeyet, Pak Basuki (industri), Bu BUdi (Teranokoko BBPOM Bdg), dan Bu Sri (RSHS). Dua penguji lain, Pak Emran dan Bu Ambar (APotek KF) belum hadir.

PErtama dari opik sendiri dulu, ngejelasin soal yang dikasih. sekitar 15 menit, ya udah jelasin dari undang2nya, dari farmolnya, dari analisisnya, struktur kimianya gimana, singkat2 aja.

Pertanyaan2 mula2 datang dari pak Ketut mengenai dosis, berapa sih maksimumnya. well, opik jawab tak menemukannya, sebenarnya ada batas dosis oral yang 0,5 mg/kg berat badan, tapi ada dosis injeksi yang 2 mg/kg berat badan. Sebenarnya ada juga sih batas dosis buat anak2, tapi klo ga salah untuk indikasi yang ga dimasukin (ini ga opik sebut, karena opik lupa2 ingat ini untuk apa), jadi terakhir2 opik jawab paling rekomendasi 40 mg sehari.

abis itu yang nanya bu Sri, soal Metoclopramide digunakan untuk apa, informasi obat apa saja yang harus diberikan ke dokter, sistem distribusi apa saja yang cocok untuk obat metoclopramide ini, terus efek samping apa yang kemungkinan besar timbul pada anak. walah2, opik jawabnya ya yang standar2 sih, tapi yang pas pertanyaan sistem distribusi opik jawab sentralisasi dan desentralisasi, bu sri bilang bukan itu (menginginkan jawaban lain), ya udah jawab unit dosis ama persediaan ruang. Terus opik cerita bahwa metocklopramide bisa untuk persediaan ruang, trus ditanya tentang unt dosis dan apakah metoklopramide bisa memakai sistem unit dosis ga? ya opik jawab bisa.

Giliran ketiga adalah Bu Ambar, nanyain soal kenapa metoklopramide masuk golongan obat keras, ya opik ajwab karena sediaan parenteral dst, pertanyaannya berkutat disitu. Lalu nanya tentang penyimpanan dari metoklopramide, yang altux jawab 15-30 derajat dan terlindung dari cahaya, yang disambung soal kondisi di apotek bagaimana. Nah opik ga bisa jawab yang warna etiket untuk sediaan injeksi untuk apa. Kan selama ini diajarin obat dalam-putih, obat luar-biru, makanya opik awalnya jawab putih, tapi salah, makanya bingung, pas keluar dari ruangan nanya2 ke yang lain, yang kebanyakan juga ga tahu, tapi ada yang bilang biru sih.

Terus Pak Basuki, yang nanya tentang steril, ruang kelas, persyaratan air WFI, TOC itu apa, terus nayain soal etik dalam bentuk soal cerita, kaya misalnya kita nentuin batas cfu 10, ternyata realitanya 15, kita harus gimana? opik jawab ya produknya di QC dulu, terus klo misalnya memenuhi spesifikasi ya lolosin, terus ruangannya disterilin ulang lagi. Terus pertanyaan kedua soal gimana klo tablet yang harusnya 100 mg, tapi kita bikinnya 95 mg, karena masih masuk batas legal, ya jawab ga boleh karena secara moral ga boleh, dan emang harusnya produk dibuat dengan maksud mencapai 100%, terserah hasilnya segitu atau tidak. Pak Yeyet nambahin di waktu kadaluarsanya.

Yang terakhir Bu Budi (Bu Cici, Pak Yeyet dan Pak Emran ga nanyain apa-apa)yang nanyain soal undang2. dari mulai UU obat keras, UU kesehatan, definisi sediaan farmasi (Nah, disini opik agak lupa2, tapi akhirnya dengan dibantu dan ingat2 dikit bisa) dst. Nah yang paling bikin bengek adalah saat ditanya soal bagaimana pendaftaran obat baru. Wah, opik lupa soal itu, tapi karena klo diam saja kliatan bodoh banget ya? jadi mulai aja dari persyaratan sebelum didaftarkan, bilang bahwa obat harus diproduksi pabrik yang memiliki CPOB dan harus ada data uji stabilita dipercepat terlebih dahulu.

Nah, dari situ Bu Budi lalu mengalihkan pertanyaan pada CPOB dimulai dari definisi dan tujuan dst (fiuh, padahal khawatir ga bisa ngejawab pertanyaan yang registrasi obat. dan akhirnya pertanyaan habis disitu. (tepatnya dihentikan, sebenarnya bu Budi pingin nanya lebih lanjut, tapi waktunya habis). Abis itu langsung keluar dan cerita sama teman2 soal apa yang terjadi di dalam (wajarlah, apalagi opik yang pertama).

Abis itu pulang dan nungguin senin,15 Agustus 2011 untuk liat keputusan. Karena suatu hal, opik baru liat pada hari selasa 16 agustus, dan ternyata LULUS!!!, tanpa peringatan!!! padahal sumpah, itu jurnal kacau, dapus....no hal....farmol dan farmaseutiknya opik ngasal dll, tapi ternyata LULUS.







1

History of medicine

Nemu dari blognya The Angriest Pharmacist, tapi ditambahin dikit, tentangs ejarah pengobatan

THE HISTORY OF MEDICINE
2000 B.C. - "Here, eat this root."
1000 B.C. - "That root is heathen, say this prayer."
20 A.D. - "That prayer is good, but you have to pray in my name me to get through to Dad."
1850 A.D. - "That prayer is a superstitious chant, drink this potion."
1940 A.D. - "That potion is merely snake oil, swallow this pill."
1970 A.D. - "That pill is ineffective, take this antibiotic four times a day."
1980 A.D. - "Bacteria aren't the problem. Viruses are enemy number 1! Get this vaccination, but you still better take our pills too!"
1990 A.D. - "Taking pills four times a day? That's ARCHAIC! Take this tablet once-a-day."
1999 A.D. - "That once-a-day tablet is cost prohibitive. Take this cheaper generic. It's the same thing."
1999 A.D. - "Their generic once-a-day tablet isn't good enough anymore. Our 'XR' tablet is now the standard of care. And you only have to take it once-a-day!!!"
2000 A.D. "This XR antibiotic kills all the bacteria in your stomach. Take this bacteria capsule four times a day."
2000 A.D. - "Those vaccines are still working, but our data shows they definitely cause autism and some other nasty shit."
2001 A.D. "No, they don't. The data never showed that. Shit happens."
2003 A.D. - "Bacteria are now resistant to this once-a-day antibiotic. We're probably fucked."
2011 A.D. - "Oh yeah, we have immune systems. That's why the vaccines work. Let's just drink the damn tap water and shut the fuck up."
20xx A.D. – “Hmm, making new drugs are too costly. Drugs also makes people live longer when they should’ve died instead, eating funds that should’ve gone to other sectors.