Q : Apa yang dimaksud dengan kesalahan obat?
A : Kejadian yang dapat dicegah, yang mungkin mengakibatkan penggunaan obat yang tak benar dan membahayakan pasien.
Q : Seberapa besar bahayanya?
A : Wah, di Indonesia belum ada data, tapi yang jelas dapat menimbulkan kematian, cacat, memperbesar lama perawatan dan biaya. Kalau di Amerika, diperkirakan 44.000-98.000 pasien meninggal, dengan >1 juta cedera.
Q : Kebanyakan kesalahannya darimana sih?
A : di AS sih Penamaan, pelabelan dan kemasan. Mungkin kalau di Indonesia bisa ditambah dengan kasus salah baca resep, pasti banyak tuh, tulisan dokter kan pada ga bisa kebaca, jadi pada nebak-nebak ini maksudnya apa.
Q : Contoh kasusnya gimana tuh?
A : Ada banyak kasus dimana bayi seharusnya diberikan heparin 10 unit/ml tapi malah dapat 10.000 unit/mL dan sudah banyak yang meninggal. masalahnya, kemasannya mirip, ukuran vialnya sama, labelnya sama-sama biru.
Kalau di Indonesia, banyaklah kasus salah baca resep sehingga pasien ga dapet obat yang seharusnya, ada juga singkatan yang berarti macam-macam, misalnya AZT yang bisa untuk zidovudin dan Azithromycin.
Q : Kalau Jenis-jenis kesalahan obat apa saja?
A : Kategorinya sebagai berikut :
-A. yang dapat menyebabkan Kesalahan
-B. Kesalahan terjadi tapi tak sampai ke pasien
-C. Kesalahan sampai pasien tapi tak ada bahaya yang timbul
-D. Kesalahan sampai pasien dan perlu pemantauan untuk memastikan terjadi bahaya atau perlu intervensi untuk menghilangkan bahaya
-E. Kesalahan sampai pasien yang mungkin menyebabkan bahaya sesaat dan perlu intervensi
-F. Kesalahan sampai pasien yang mungkin menyebabkan bahaya sesaat dan perlu perawatan awal atau diperpanjang
-G. Kesalahan sampai pasien yang mungkin menyebabkan bahaya permanen
-H. Kesalahan sampai pasien yang menyebabkan perlu tindakan untuk menjaga nyawa
-I. Kesalahan sampai pasien yang mungkin menyebabkan kematian
selain itu ada pula yang disebut :
- Errors of commission
yaitu kesalahan yang terjadi karena tindakan diambil. Misalnya memberi obat yang salah, pada rute yang salah, dosisnya salah, dsb
-errors of omission
yaitu kesalahan yang terjadi karena tindakan tidak diambil. Misalnya lupa minum atau memberikan obat
Q : Strategi untuk mengurangi kesalahan obat apa saja?
A :
1. meningkatkan kewaspadaan pada populasi beresiko tinggi
misalnya anak-anak, manula, orang yang gagal ginjal, hati rusak, dll
2.Hindari singkatan dan penulisan yang membingungkan.
misalnya AZT, MTX, atau ,55 mg dan 55,0 mg
3.Kenali LASA (look alike, sound alike) - obat-obatan yang mirip nama atau rupa
misalnya saja obat dari satu pabrik (biasanya kemasannya sama), apalagi yang dari San**.
4.Hati-hati dengan nama dagang dari satu pabrik tertentu
biasanya suka sama, kemasannya pun bisa sangat mirip.
5.Perhatikan obat yang perlu perhatian tinggi
yaitu obat-obatan yang menimbulkan bahaya pada pasien bila digunakan tidak benar. misal Narkotik, psikotropik, jantung, antagonis dan agonis adrenergik
6.Cari duplikasi terapi dan interaksi obat
inilah perlunya didapatkannya sejarah obat pasien, atau obat2 apa saja yang didapat pasien. Klo di Indonesia banyak kasus banyak pasien overdosis saat ditangani dokter yang berbeda-beda karena masing-masing dokter meresepkan obat yang sama.
7. Buat lingkungan yang enak
Cahaya, AC, tataletak ruang, tanaman, jendela yang menghadap ke taman bisa mengurangi stres kerja, dan membantu mengurangi kesalahan, pokoknya buat tempat kerja ergonomis.
8.Jangan memotong peringatan dari teknologi yang digunakan.
Kalau komputer sudah memperingatkan ada sesuatu yang salah, jangan dilewatkan begitu saja
9.Laporkan kasus untuk mengembangkan proses
jangan takut, laporkan saja, tanpa nama. klo di Indonesia ke BPOM
10.Didik pasien
Tunjukkan label, obat, dan ceritakan isinya apa, gunanya apa secara sederhana
sumber:
https://secure.pharmacytimes.com/lessons/200809-01.asp
(10 Strategies to Reduce Medication Errors
Lauren S. Schlesselman , PharmD)
Senin, 09 Mei 2011
Laporan Dialog Antara Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia dengan Komisi VIII DPR-RI di Melbourne
dari agenda ganesha
HL | 03 May 2011 | 06:14 30752 107 5 dari 7 Kompasianer menilai menarik
Tulisan ini ditulis oleh rekan saya, Teguh Iskanto ketika menghadiri dialog antara Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) dengan Komisi VIII DPR-RI di Ruang Bhinneka Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Melbourne pada tanggal 30 April 2011, Pukul 20.00 waktu setempat.
Pembuka:
Setelah bertahun-tahun menjadi WNI akhirnya kesampaian juga saya mendapat kesempatan untuk dapat bertatap muka dan berdiskusi dengan para wakil rakyat. Terlebih tidak terasa sudah 9 tahun 10 bulan saya meninggalkan Indonesia, dan mungkin kesempatan ini adalah satu-satunya kesempatan bagi saya untuk bisa bertemu & bertatap muka langsung dengan para pejabat negara.
Setelah terburu-buru nyupir karena takut terlambat, akhirnya saya beserta istri sampai juga di KJRI sekitar pukul 18:15 AEST, walhasil sesampainya di KJRI terlihat jelas pihak konsulat sudah mempersiapkan acara dengan matang. Makanan, kursi-kursi tamu beserta meja panelis untuk pembicara, semua sudah disiapkan dengan rapi. Waktu sudah menunjukan pukul 18:19 tapi belum juga terlihat tanda-tanda kedatangan para tamu yang ‘terhormat’, padahal di dalam undangan tertulis acara akan dimulai pukul 18:00.
Menunggu sang tamu datang :
Sambil menunggu akhirnya saya menggunakan waktu yang ada untuk sholat maghrib, bercengkerama & beramah tamah dengan kawan-kawan. Di bagian depan terlihat banyak kamera & video dari beberapa media komunitas Indonesia di Melbourne. Berikut ada juga perwakilan Radio ABC Australia yang datang untuk meliput. Sementara beberapa kawan-kawan dari PPIA sudah siap dengan siaran internet radio langsung yang di sebarkan ke seluruh dunia via PPI Internasional, semua alat-alat sudah diset & disiapkan.
Seputar berita-berita negatif yang ada di Internet tentang rencana studi banding anggota dewan, saya sebelumnya juga sudah diingatkan oleh istri dan seorang kawan untuk tidak menghakimi para anggota dewan. “Berikan mereka kesempatan utk menjelaskan alasan mereka, dan jangan pojokan mereka, mungkin ada sesuatu yg kita tidak tahu” , begitu saran yang saya dapatkan dan sayapun setuju untuk menjadi lebih netral dan objektif, lagi pula “who are we to judge people anyway …”
13044058042022829676
Suasana di Konsulat Jenderal RI sesaat sebelum dialog dimulai. Courtesy of Dirgayuza Setiawan.
Akhirnya sang tamu datang juga :
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya sang tamu yang di tunggu-tunggu datang juga, secara persis saya tidak melihat jam mungkin sekitar jam 18:50-19:00. Semua hadirin tampak antusias dan tidak terasa suasana ruangan Bhinneka di KJRI Melbourne menjadi tampak hidup karena semua orang mulai terlihat antusias. Beberapa anggota dewan bahkan ada yang mulai memperkenalkan diri secara pribadi & menyapa para hadirin satu persatu. Beberapa juga ada yang beramah tamah dengan staf KJRI. Setelah beramah tamah sekitar 5-10 menit, staff KJRI mengumumkan untuk memulai acara dengan hidangan makan malam terlebih dahulu. Pada mulanya saya sempat berpikir, wah ini sepertinya strategi dari KJRI untuk meredam pertanyaan pertanyaan dari para hadirin, dengan membuat mereka kenyang dan mengantuk setelah makan … :) he he he
13044035211110947843
Rombongan Anggota Komisi VIII DPR-RI di KBRi Canberra. Sumber: www.kemlu.go.id
Acara Dimulai :
Setelah menikmati santap malam, akhirnya acara dibuka oleh Acting Consul General, Bapak Hadisapto Pambrastoro mewakili KJRI Melbourne. Bapak Hadi mencoba memaparkan komposisi masyarakat Indonesia di Melbourne, yang lebih dari 50% umumnya diisi oleh pelajar. Sebelumnya juga hadirin diingatkan bahwa acara tanya jawab hanya akan dibatasi sampai pukul 21:00 mengingat jadwal kesibukan anggota tim komisi VIII keesokan harinya (which is private dinner bersama staff Konsulat jenderal RI. Kayak gini dibilang sibuk?).
Sementara dari pihak komisi VIII diwakili oleh juru bicaranya Bapak Abdul Kadir Karding (PKB), beliau memperkenalkan anggota tim studi banding satu persatu dengan komposisi 7 orang anggota duduk di meja panelis yang terdiri dari perwakilan PDI-P (Ina Ammania), GOLKAR (Drs. H. Zulkarnaen Djabar), PKS (Ahmad Zainuddin, LC), PKB (H. Abdul Kadir Karding, SPI - Ketua Rombongan & Pembicara), GOLKAR (Dra. Hj. Chairun Nisa, MA), Hanura (Dra. Hj. Soemintarsih Muntoro, M.Si), dan Demokrat (Dra. Hj. Ratu Siti Romlah, M.Ag). Jumlah total keseluruhan anggota komisi VIII yang datang pada studi banding kali ini sekitar 11 orang.
Beliau juga mencoba memaparkan, bidang kerja komisi VIII yang umumnya berkonsentrasi di bidang :
* Keagamaan ( mencakup didalamnya adalah : agama, pendidikan agama, masalah ahmadiyah, pluralisme & terorisme)
* Penanggulangan bencana
* Pemberdayaan perempuan & perlindungan anak
* Kementerian sosial (diantaranya : masalah sosial, lansia, kemiskinan, orang cacat & anak jalanan)
Di salah satu kesempatan beliau juga menjelaskan tujuan kedatangan ke Australia adalah untuk belajar mengenai upaya penanggulangan kemiskinan, diantaranya adalah menyusun konsep rancangan untuk :
* RUU Fakir Miskin
* RUU Kebebasan & Perlindungan beragama
* RUU ZIS (Zakat Infaq Shadaqah) - pengurangan pajak terhadap donasi/sumbangan
* RUU Jaminan produk halal
* RUU Keadilan dan kesetaraan gender
* RUU Pendidikan yang dikelola masyarakat swasta
Beliau juga menjelaskan mengapa Australia adalah negara yang dituju :
* Lebih dekat dibanding negara-negara lain ( sehingga bisa mengurangi biaya )
* Australia memiliki sistem jaminan sosial yang terstruktur dan mapan kalau meminjam kata-katanya Bpk Karding : “Sistem yg luar biasa”
* Salah satu negara yang sukses menerapkan prinsip multikulturalisme sampai pada tingkat pendidikan anak-anak.
1304405968379346989
Ketua Rombongan Komisi VIII, Bapak Abdul Kadir Karding memperkenalkan diri dan rombongan. Courtesy of: Dirgayuza Setiawan.
Sesi Pertanyaan :
Setelah mendengar paparan tadi, saya cukup mengakui kalau Bapak Abdul Kadir Karding (PKB) , memiliki kemampuan komunikasi yang hebat, beliau mencoba ‘meredam’ suasana hadirin yang ada di ruang Bhinneka dengan ’lelucon-lelucon’ dan dengan paparan gaya bahasa yang lugas, tenang dan terstruktur. Mungkin inilah sebabnya beliau terpilih menjadi ketua rombongan, karena kalau dari apa yang saya lihat secara pribadi beliaulah yang memiliki kemampuan ‘public speaking’ yang paling mencolok dibanding anggota-anggota yang lain. Karena kalau dilihat ada beberapa anggota yang hanya duduk di kursi panelis tanpa ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka (selain memperkenalkan diri), ada yang hanya mencatat dan ada pula yang hanya sesekali saja berkomentar. Kalau dilihat memang ‘all in all’, sepertinya memang sudah menjadi tugasnya Bapak Karding untuk ‘menjinakan’ para hadirin :)
Pada saat sesi tanya jawab dimulai, ada 3 penanya pertama (dari beberapa yg berusaha secara antusias) :
1. Bagus Nugroho (Mahasiswa Program S3 Bidang Aeronautics Melbourne University & Nano Tech dari Oxford University)
Mengenai dana yang dikeluarkan untuk 11 anggota komisi VIII yang pergi studi banding ke Australia, menurut perhitungan Bagus, jumlah dana yang di keluarkan adalah sekitar Rp. 811 juta untuk selama 6 hari atau sekitar US$ 5000 per orang per minggu. pertanyaannya adalah mengapa sebesar itu? bukankah itu dana yang sangat besar untuk dikeluarkan, mengingat tingkat efektifitas yang rendah dari hasil studi banding?
2. Dirgayuza Setiawan (Wakil Ketua PPIA - Mahasiswa Jurusan Media )
Yuza, mencoba menyangkal argumen Bapak Karding, yang mempertanyakan mengapa surat terbuka PPIA dikirimkan terlebih dahulu ke media dibanding langsung ke beliau : menurut Yuza, karena semua channel yang ada telah dicoba berikut mengakses website pribadi Bapak Karding yang ternyata berstatus ’suspended’. Dari website DPR-RI pun, tidak ada keterangan nomor kontak & alamat email yang bisa dihubungi. Karena itu Yuza menghubungi media untuk meminta informasi.
Seperti telah diketahui sebelumnya dalam wawancara radio Australia di Canberra, Bapak Karding mengatakan bahwa alasan anggota Komisi VIII tidak mengunjungi daerah Northern Teritory (NT) adalah karena beliau menangkap adanya “sinyal-sinyal” keengganan dari pemerintah Australia untuk membolehkan mereka pergi ke NT. Dikarenakan menurut beliau issue penduduk miskin Aborigin di Australia adalah issue yang sensitif apalagi untuk kunjungan perlemen asing. Pada saat yang sama Yuza mengatakan, hal yang sama tidak terjadi terhadap beberapa mahasiswa Indonesia yang sedang mengadakan penilitian di NT untuk mensurvei penduduk miskin, pemerintah Australia justru membantu dengan sepenuh hati. Hal yang menjadi pertanyaan Yuza adalah, “sinyal-sinyal” seperti apakah dan bagaimana cara menginterpretasikan sinyal yang ditangkap Bapak Karding sehingga jatuh pada kesimpulan bahwa pemerintah Australia enggan mengizinkan anggota Komisi VIII DPR-RI pergi ke NT ? Terlebih daerah NT adalah daerah dengan konsentrasi penduduk miskin terbanyak di Australia.
Pertanyaan yang lain adalah, mengapa kunjungan yang dilakukan hanya mampu menghubungi pejabat-pejabat setingkat negara bagian, tapi tidak sampai pada tingkat pemerintah federal? DPR cenderung dianggap tidak siap dalam menyiapkan bahan-bahan dan memilih narasumber ( kurangnya koordinasi & tidak tepat sasaran ) dan kalaupun ini memang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari, kenapa ada visa salah satu anggota tim Komisi VIII yang ditolak oleh pemerintah Australia ?
3. Penanya ke-3 (lupa namanya, beliau sedang mengambil study S-2 bidang sosiology di Melbourne University)
Beliau menanyakan tentang kerukunan hidup beragama terutama masalah perlakuan pemerintah terhadap pengikut Syi’ah di Indonesia.
Sesi Komisi VIII Menjawab ( Hadirin Mulai Gelisah/Gusar ) :
Lagi-lagi saya harus akui kelihaian Bapak Abdul Kadir Karding untuk urusan ’skill’ public speaking, sepertinya beliau menguasai betul medan & trik untuk mengulur-ulur waktu, salah satunya adalah dengan melambatkan tempo bicara, dan berbicara hal-hal yang diluar konteks pembicaraan. Hal ini menyebabkan waktu yang tersisa tinggal sedikit. Beberapa kali Dirgayuza (Wakil Ketua PPIA) menginterupsi anggota komisi VIII untuk “straight to the point” pada pertanyaan yang ditanyakan.
Salah seorang anggota Komisi VIII dalam menjawab/menanggapi pertanyaan dari Bagus Nugroho bahkan membandingkan anggaran yang diterima oleh Komisi VIII dalam studi banding kali ini masih lebih kecil jika dibandingkan dengan salah satu staff kementerian Australia yang katanya bisa menerima 3 kali lipat dari apa yang diterima oleh Komisi VIII. Hello!!! Australia itu kan pendapatan per kapitanya lebih besar dari Indonesia, Kira-kira sekitar US$ 55590 per tahun. Indonesia sekitar US$ 3015 per tahun (sumber wikipedia). Apa mereka itu nggak mikir ya sebelum menjawab???
Beberapa anggota dewan yang diberi kesempatan untuk menjawab memulai dengan meminta kepada kawan-kawan PPIA untuk tidak terkesan menghakimi/mengadili mereka dalam dialog kali ini. Bahkan ada yang mengalami suasana “kebatinan” (mungkin maksudnya feeling so emotional) ketika mengunjungi Australia kali ini seraya bercerita tentang beberapa anaknya yang dulu pernah bersekolah di Melbourne, Australia dan suaminya yang pernah menjadi ketua perhimpunan pelajar pada saat itu. Secara pribadi menurut saya, jawaban-jawaban yang diberikan lebih bersifat normatif dan tidak pada inti permasalahan dan cenderung berputar-putar. Apakah ini suatu kesengajaan untuk mengulur waktu? Wallahualam…Hanya Tuhan yg tahu…
Karena jawaban tidak dirasakan mengena dan berputar-putar untuk hal-hal yang tidak penting sementara waktu semakin sempit, banyak hadirin yang mulai melakukan interupsi sehingga suasana ruang Bhinneka menjadi gaduh. Tidak hanya itu beberapa sesekali sudah mulai terdengar suara cemoohan dan kata-kata “huuuu…kecewaaaaa!!!” dari para hadirin.
Ketika mendekati pukul 21:00, pihak KJRI berusaha untuk menutup sesi tanya jawab, dengan alasan kesibukan anggota dewan pada keesokan harinya: which is Sunday of course ..:) bukankah adalah hak kita sebagai rakyat untuk meminta / menanyakan hal-hal yang dirasa perlu ke wakil rakyat kita di parlemen? Pada saat ini suasana semakin riuh dan sudah ada hadirin yang berteriak-teriak langsung bertanya … tanpa moderator … :) terus terang suasana sudah sedikit agak kacau pada waktu itu. Bahkan ada beberapa yang langsung meninggalkan ruangan dan langsung pulang.
1304406245706311786
Salah satu anggota Komisi VIII DPR-RI mencoba untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Mahasiswa Indonesia di Melbourne. Courtesy of: Dirgayuza Setiawan.
Here comes the Bomb Shell …
Salah satu kawan saya (pas saat sesi kacau) sempat berteriak … “Kenapa nggak pakai teleconference aja sih Pak ?” pada saat itu, Bapak Karding menjawab : “Wah itu kan teknisnya terlalu rumit … “ sontak mendengar jawaban tadi hadirin yang umumnya mahasiswa langsung tertawa … lalu ada lagi yang nyeletuk “Pak mau dibikinin account Skype sama saya nggak Pak ?”
Trus ada beberapa anggota Komisi VIII, yg mengatakan, karena keterbatasan waktu kawan2 bisa menghubungi kami lewat email. Tapi ketika serentak kami menanyakan apa alamat email beliau, yang keluar adalah … xxxx@yahoo.com :) . Beberapa hadirin termasuk saya tampak kesal dengan jawaban tersebut, kemudian hadirin menanyakan: “Kami ingin alamat resmi bapak!” , dan dibalas dengan: “nanti ….nanti akan diberikan …. ” pada saat ini penyiar radio PPI Internasional menginterupsi “Tolong disebutkan saja pak disini , jadi semua orang bisa dengar …” , bahkan dengan tantangan itupun sepertinya mereka bapak-bapak/ibu-ibu anggota Komisi VIII itu tidak tahu …apa alamat email resmi mereka … saya lihat ada 1 orang staff ahli yang mendampingi komisi VIII sibuk bolak balik mencoba membagikan kartu nama ( yang itupun dalam kartu nama tersebut tercantum alamat imel Gmail & Yahoo ) … ????
Karena suasana panik dan makin riuh, salah seorang ibu (staff anggota komisi VIII) berteriak, ” KALAU ADA YANG PERLU DITANYAKAN… SILAKAN SAJA KIRIM KE ALAMAT EMAIL : KOMISI DELAPAN AT YAHOO DOT COM.. !!!! ” pada saat itu .. tawa hadirin langsung pecah .. saya sendiri geleng-geleng kepala dan sudah tidak tahu mau bicara apa lagi … (selengkapnya lihat saja disini: http://www.youtube.com/watch?v=8dEjGOPfAqA&feature=youtu.be)
Ada teman yg bilang : Wah kalo gitu mah gak usah jadi anggota DPR, anak saya yg masih kecil juga udah bisa bikin email yahoo sendiri … :)
BTW: setelah acara selesai salah seorang kawan mencoba mengirim test mail (via BB) ke :
- komisiviii@yahoo.com
- komisi8@yahoo.com
- komisidelapan@yahoo.com
- komisiviii@yahoo.co.id
- komisi8@yahoo.co.id
- komisidelapan@yahoo.co.id
and guess what, none of them is working …!!! semua email test bouncing back ke sender , alias alamat yang diberikan tidak ada …!!!!
Lagi-lagi karena tidak puas, saya beserta istri & kawan-kawan mendekati ibu salah satu staff ahli pendamping anggota komisi VIII dalam kunjungan kerja ini, sambil menanyakan alamat resmi, saat itu beliau bilang : “Lihat aja di website DPR nanti kan ada daftar masing-masing komisi, nanti dari situ ada alamat imelnya “
Lagi lagi, kita cek via HP , dan …ternyata tidak ada (kalau tidak percaya silakan cek sendiri ke www.dpr.go.id) , kalau begini mana yang benar ? kalau yang bekerja di DPR saja tidak tahu alamat kontak resmi yang bisa dihubungi, bagaimana dengan orang lain?? Dan jangan salah bahwa, 1 staff DPR memiliki 7 asisten (staf ahli), *Unfortunately* sepertinya tidak satupun dari ke-7 asisten beserta anggota DPR itu sendiri tahu alamat kontak resmi mereka ??? Kalau untuk hal yang sangat mendasar saja mereka tidak kompeten, bagaimana mereka akan membela kepentingan rakyat yang akan mereka wakili ???
Bagaimana tidak, DPR RI, parlemen dari negara dengan jumlah penduduk ke-4 terbesar di dunia, parlemen dari negara anggota G-20 (negara dengan salah satu kekuatan ekonomi & pangsa pasar terbesar di dunia) serta mempunyai anggaran ber-triliun2 rupiah utk gedung baru, lengkap dgn fasilitas & tunjangan lainnya …. masih memakai alamat email gratis utk kontak terhadap rakyat yg di wakilinya … ????
Tidakkah mereka berpikir, bahwa parlemen kita akan menjadi bahan olok-olok parlemen Australia begitu melihat kartu nama dengan alamat imel dari Yahoo / Gmail ???
Ketika ditanya alamat kontak mereka, umumnya mereka kebingungan menjawabnya, yang menurut saya sangat-sangat aneh bukan?? Bagaimana mereka mau mendengar aspirasi rakyat yang mereka wakili jika alamat kontak untuk dihubungipun mereka kebingungan menjawabnya ??
Setelah acara diskusi selesai, beberapa dari kami yang tidak puas, langsung menyerbu dan bertanya langsung ke anggota komisi VIII, ada dari beberapa diantara mereka tidak membawa kartu nama!!! Bagaimana mereka ingin memperkenalkan diri di hadapan anggota parlemen Australia jika kartu nama saja mereka tidak bawa, dan kalaupun ada, mereka mencantumkan alamat imel gratis (yahoo/gmail) sebagai alamat kontak mereka !!!
Pada saat saya mencoba bertanya ke Bapak Karding tentang kunjungan studi banding, saya tanyakan: “Pak bukankah menjadi paradoks bagi DPR bahwa kunjungan studi banding dalam rangka mengentaskan kemiskinan tapi di saat yang sama DPR menghambur-hamburkan uang rakyat yang akan dientaskan kemiskinannya ???”
Ironis sekali memang ternyata, dan syukur …kalau bukan karena kesempatan ini, saya mungkin hanya bisa mendengar dari media massa tentang perilaku anggota DPR, tapi untuk saat ini saya bisa melihat, mendengar & mengalaminya sendiri di depan mata.
Saat itu kami sempat bingung dan bertanya ke salah satu staff senior KJRI : ” Pak apa memang sudah separah inikah keadaan institusi di negara kita ? ” beliau menjawab ( dan mencoba berdiplomasi ) : “Maaf dik saya sendiri belum berkecimpung di dunia politik, mengenai komentar, saya pikir, adik bisa lihat sendiri apa yg terjadi tadi” … ( kayaknya beliau juga shock )
Sebagai Penutup :
BTW: Beberapa kawan sebelum pulang kita sempat bercanda “kayaknya abis malem ini kita bakal susah tidur nih … ” dan banyak yang geleng-geleng kepala sampai keluar pintu KJRI, sepertinya kita masih belum percaya dengan apa yg kita lihat.
Entah mau dibawa kemana negara ini, jika para pemegang amanahnya saja tidak kompeten di bidangnya.
Dan memang ternyata benar, sampai sekarang pukul 6:30 pagi pun saya belum bisa tidur … :) bahkan hingga keesokan harinya, seorang kawan berkelakar di milis “Mungkin coba aja imel ini: k0M151d3L4P4n@yahoo.com kali aja mereka ber-Alay ria…hehehe…”
Laporan oleh: Teguh Iskanto
Diedit oleh: Didi Rul
HL | 03 May 2011 | 06:14 30752 107 5 dari 7 Kompasianer menilai menarik
Tulisan ini ditulis oleh rekan saya, Teguh Iskanto ketika menghadiri dialog antara Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) dengan Komisi VIII DPR-RI di Ruang Bhinneka Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Melbourne pada tanggal 30 April 2011, Pukul 20.00 waktu setempat.
Pembuka:
Setelah bertahun-tahun menjadi WNI akhirnya kesampaian juga saya mendapat kesempatan untuk dapat bertatap muka dan berdiskusi dengan para wakil rakyat. Terlebih tidak terasa sudah 9 tahun 10 bulan saya meninggalkan Indonesia, dan mungkin kesempatan ini adalah satu-satunya kesempatan bagi saya untuk bisa bertemu & bertatap muka langsung dengan para pejabat negara.
Setelah terburu-buru nyupir karena takut terlambat, akhirnya saya beserta istri sampai juga di KJRI sekitar pukul 18:15 AEST, walhasil sesampainya di KJRI terlihat jelas pihak konsulat sudah mempersiapkan acara dengan matang. Makanan, kursi-kursi tamu beserta meja panelis untuk pembicara, semua sudah disiapkan dengan rapi. Waktu sudah menunjukan pukul 18:19 tapi belum juga terlihat tanda-tanda kedatangan para tamu yang ‘terhormat’, padahal di dalam undangan tertulis acara akan dimulai pukul 18:00.
Menunggu sang tamu datang :
Sambil menunggu akhirnya saya menggunakan waktu yang ada untuk sholat maghrib, bercengkerama & beramah tamah dengan kawan-kawan. Di bagian depan terlihat banyak kamera & video dari beberapa media komunitas Indonesia di Melbourne. Berikut ada juga perwakilan Radio ABC Australia yang datang untuk meliput. Sementara beberapa kawan-kawan dari PPIA sudah siap dengan siaran internet radio langsung yang di sebarkan ke seluruh dunia via PPI Internasional, semua alat-alat sudah diset & disiapkan.
Seputar berita-berita negatif yang ada di Internet tentang rencana studi banding anggota dewan, saya sebelumnya juga sudah diingatkan oleh istri dan seorang kawan untuk tidak menghakimi para anggota dewan. “Berikan mereka kesempatan utk menjelaskan alasan mereka, dan jangan pojokan mereka, mungkin ada sesuatu yg kita tidak tahu” , begitu saran yang saya dapatkan dan sayapun setuju untuk menjadi lebih netral dan objektif, lagi pula “who are we to judge people anyway …”
13044058042022829676
Suasana di Konsulat Jenderal RI sesaat sebelum dialog dimulai. Courtesy of Dirgayuza Setiawan.
Akhirnya sang tamu datang juga :
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya sang tamu yang di tunggu-tunggu datang juga, secara persis saya tidak melihat jam mungkin sekitar jam 18:50-19:00. Semua hadirin tampak antusias dan tidak terasa suasana ruangan Bhinneka di KJRI Melbourne menjadi tampak hidup karena semua orang mulai terlihat antusias. Beberapa anggota dewan bahkan ada yang mulai memperkenalkan diri secara pribadi & menyapa para hadirin satu persatu. Beberapa juga ada yang beramah tamah dengan staf KJRI. Setelah beramah tamah sekitar 5-10 menit, staff KJRI mengumumkan untuk memulai acara dengan hidangan makan malam terlebih dahulu. Pada mulanya saya sempat berpikir, wah ini sepertinya strategi dari KJRI untuk meredam pertanyaan pertanyaan dari para hadirin, dengan membuat mereka kenyang dan mengantuk setelah makan … :) he he he
13044035211110947843
Rombongan Anggota Komisi VIII DPR-RI di KBRi Canberra. Sumber: www.kemlu.go.id
Acara Dimulai :
Setelah menikmati santap malam, akhirnya acara dibuka oleh Acting Consul General, Bapak Hadisapto Pambrastoro mewakili KJRI Melbourne. Bapak Hadi mencoba memaparkan komposisi masyarakat Indonesia di Melbourne, yang lebih dari 50% umumnya diisi oleh pelajar. Sebelumnya juga hadirin diingatkan bahwa acara tanya jawab hanya akan dibatasi sampai pukul 21:00 mengingat jadwal kesibukan anggota tim komisi VIII keesokan harinya (which is private dinner bersama staff Konsulat jenderal RI. Kayak gini dibilang sibuk?).
Sementara dari pihak komisi VIII diwakili oleh juru bicaranya Bapak Abdul Kadir Karding (PKB), beliau memperkenalkan anggota tim studi banding satu persatu dengan komposisi 7 orang anggota duduk di meja panelis yang terdiri dari perwakilan PDI-P (Ina Ammania), GOLKAR (Drs. H. Zulkarnaen Djabar), PKS (Ahmad Zainuddin, LC), PKB (H. Abdul Kadir Karding, SPI - Ketua Rombongan & Pembicara), GOLKAR (Dra. Hj. Chairun Nisa, MA), Hanura (Dra. Hj. Soemintarsih Muntoro, M.Si), dan Demokrat (Dra. Hj. Ratu Siti Romlah, M.Ag). Jumlah total keseluruhan anggota komisi VIII yang datang pada studi banding kali ini sekitar 11 orang.
Beliau juga mencoba memaparkan, bidang kerja komisi VIII yang umumnya berkonsentrasi di bidang :
* Keagamaan ( mencakup didalamnya adalah : agama, pendidikan agama, masalah ahmadiyah, pluralisme & terorisme)
* Penanggulangan bencana
* Pemberdayaan perempuan & perlindungan anak
* Kementerian sosial (diantaranya : masalah sosial, lansia, kemiskinan, orang cacat & anak jalanan)
Di salah satu kesempatan beliau juga menjelaskan tujuan kedatangan ke Australia adalah untuk belajar mengenai upaya penanggulangan kemiskinan, diantaranya adalah menyusun konsep rancangan untuk :
* RUU Fakir Miskin
* RUU Kebebasan & Perlindungan beragama
* RUU ZIS (Zakat Infaq Shadaqah) - pengurangan pajak terhadap donasi/sumbangan
* RUU Jaminan produk halal
* RUU Keadilan dan kesetaraan gender
* RUU Pendidikan yang dikelola masyarakat swasta
Beliau juga menjelaskan mengapa Australia adalah negara yang dituju :
* Lebih dekat dibanding negara-negara lain ( sehingga bisa mengurangi biaya )
* Australia memiliki sistem jaminan sosial yang terstruktur dan mapan kalau meminjam kata-katanya Bpk Karding : “Sistem yg luar biasa”
* Salah satu negara yang sukses menerapkan prinsip multikulturalisme sampai pada tingkat pendidikan anak-anak.
1304405968379346989
Ketua Rombongan Komisi VIII, Bapak Abdul Kadir Karding memperkenalkan diri dan rombongan. Courtesy of: Dirgayuza Setiawan.
Sesi Pertanyaan :
Setelah mendengar paparan tadi, saya cukup mengakui kalau Bapak Abdul Kadir Karding (PKB) , memiliki kemampuan komunikasi yang hebat, beliau mencoba ‘meredam’ suasana hadirin yang ada di ruang Bhinneka dengan ’lelucon-lelucon’ dan dengan paparan gaya bahasa yang lugas, tenang dan terstruktur. Mungkin inilah sebabnya beliau terpilih menjadi ketua rombongan, karena kalau dari apa yang saya lihat secara pribadi beliaulah yang memiliki kemampuan ‘public speaking’ yang paling mencolok dibanding anggota-anggota yang lain. Karena kalau dilihat ada beberapa anggota yang hanya duduk di kursi panelis tanpa ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka (selain memperkenalkan diri), ada yang hanya mencatat dan ada pula yang hanya sesekali saja berkomentar. Kalau dilihat memang ‘all in all’, sepertinya memang sudah menjadi tugasnya Bapak Karding untuk ‘menjinakan’ para hadirin :)
Pada saat sesi tanya jawab dimulai, ada 3 penanya pertama (dari beberapa yg berusaha secara antusias) :
1. Bagus Nugroho (Mahasiswa Program S3 Bidang Aeronautics Melbourne University & Nano Tech dari Oxford University)
Mengenai dana yang dikeluarkan untuk 11 anggota komisi VIII yang pergi studi banding ke Australia, menurut perhitungan Bagus, jumlah dana yang di keluarkan adalah sekitar Rp. 811 juta untuk selama 6 hari atau sekitar US$ 5000 per orang per minggu. pertanyaannya adalah mengapa sebesar itu? bukankah itu dana yang sangat besar untuk dikeluarkan, mengingat tingkat efektifitas yang rendah dari hasil studi banding?
2. Dirgayuza Setiawan (Wakil Ketua PPIA - Mahasiswa Jurusan Media )
Yuza, mencoba menyangkal argumen Bapak Karding, yang mempertanyakan mengapa surat terbuka PPIA dikirimkan terlebih dahulu ke media dibanding langsung ke beliau : menurut Yuza, karena semua channel yang ada telah dicoba berikut mengakses website pribadi Bapak Karding yang ternyata berstatus ’suspended’. Dari website DPR-RI pun, tidak ada keterangan nomor kontak & alamat email yang bisa dihubungi. Karena itu Yuza menghubungi media untuk meminta informasi.
Seperti telah diketahui sebelumnya dalam wawancara radio Australia di Canberra, Bapak Karding mengatakan bahwa alasan anggota Komisi VIII tidak mengunjungi daerah Northern Teritory (NT) adalah karena beliau menangkap adanya “sinyal-sinyal” keengganan dari pemerintah Australia untuk membolehkan mereka pergi ke NT. Dikarenakan menurut beliau issue penduduk miskin Aborigin di Australia adalah issue yang sensitif apalagi untuk kunjungan perlemen asing. Pada saat yang sama Yuza mengatakan, hal yang sama tidak terjadi terhadap beberapa mahasiswa Indonesia yang sedang mengadakan penilitian di NT untuk mensurvei penduduk miskin, pemerintah Australia justru membantu dengan sepenuh hati. Hal yang menjadi pertanyaan Yuza adalah, “sinyal-sinyal” seperti apakah dan bagaimana cara menginterpretasikan sinyal yang ditangkap Bapak Karding sehingga jatuh pada kesimpulan bahwa pemerintah Australia enggan mengizinkan anggota Komisi VIII DPR-RI pergi ke NT ? Terlebih daerah NT adalah daerah dengan konsentrasi penduduk miskin terbanyak di Australia.
Pertanyaan yang lain adalah, mengapa kunjungan yang dilakukan hanya mampu menghubungi pejabat-pejabat setingkat negara bagian, tapi tidak sampai pada tingkat pemerintah federal? DPR cenderung dianggap tidak siap dalam menyiapkan bahan-bahan dan memilih narasumber ( kurangnya koordinasi & tidak tepat sasaran ) dan kalaupun ini memang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari, kenapa ada visa salah satu anggota tim Komisi VIII yang ditolak oleh pemerintah Australia ?
3. Penanya ke-3 (lupa namanya, beliau sedang mengambil study S-2 bidang sosiology di Melbourne University)
Beliau menanyakan tentang kerukunan hidup beragama terutama masalah perlakuan pemerintah terhadap pengikut Syi’ah di Indonesia.
Sesi Komisi VIII Menjawab ( Hadirin Mulai Gelisah/Gusar ) :
Lagi-lagi saya harus akui kelihaian Bapak Abdul Kadir Karding untuk urusan ’skill’ public speaking, sepertinya beliau menguasai betul medan & trik untuk mengulur-ulur waktu, salah satunya adalah dengan melambatkan tempo bicara, dan berbicara hal-hal yang diluar konteks pembicaraan. Hal ini menyebabkan waktu yang tersisa tinggal sedikit. Beberapa kali Dirgayuza (Wakil Ketua PPIA) menginterupsi anggota komisi VIII untuk “straight to the point” pada pertanyaan yang ditanyakan.
Salah seorang anggota Komisi VIII dalam menjawab/menanggapi pertanyaan dari Bagus Nugroho bahkan membandingkan anggaran yang diterima oleh Komisi VIII dalam studi banding kali ini masih lebih kecil jika dibandingkan dengan salah satu staff kementerian Australia yang katanya bisa menerima 3 kali lipat dari apa yang diterima oleh Komisi VIII. Hello!!! Australia itu kan pendapatan per kapitanya lebih besar dari Indonesia, Kira-kira sekitar US$ 55590 per tahun. Indonesia sekitar US$ 3015 per tahun (sumber wikipedia). Apa mereka itu nggak mikir ya sebelum menjawab???
Beberapa anggota dewan yang diberi kesempatan untuk menjawab memulai dengan meminta kepada kawan-kawan PPIA untuk tidak terkesan menghakimi/mengadili mereka dalam dialog kali ini. Bahkan ada yang mengalami suasana “kebatinan” (mungkin maksudnya feeling so emotional) ketika mengunjungi Australia kali ini seraya bercerita tentang beberapa anaknya yang dulu pernah bersekolah di Melbourne, Australia dan suaminya yang pernah menjadi ketua perhimpunan pelajar pada saat itu. Secara pribadi menurut saya, jawaban-jawaban yang diberikan lebih bersifat normatif dan tidak pada inti permasalahan dan cenderung berputar-putar. Apakah ini suatu kesengajaan untuk mengulur waktu? Wallahualam…Hanya Tuhan yg tahu…
Karena jawaban tidak dirasakan mengena dan berputar-putar untuk hal-hal yang tidak penting sementara waktu semakin sempit, banyak hadirin yang mulai melakukan interupsi sehingga suasana ruang Bhinneka menjadi gaduh. Tidak hanya itu beberapa sesekali sudah mulai terdengar suara cemoohan dan kata-kata “huuuu…kecewaaaaa!!!” dari para hadirin.
Ketika mendekati pukul 21:00, pihak KJRI berusaha untuk menutup sesi tanya jawab, dengan alasan kesibukan anggota dewan pada keesokan harinya: which is Sunday of course ..:) bukankah adalah hak kita sebagai rakyat untuk meminta / menanyakan hal-hal yang dirasa perlu ke wakil rakyat kita di parlemen? Pada saat ini suasana semakin riuh dan sudah ada hadirin yang berteriak-teriak langsung bertanya … tanpa moderator … :) terus terang suasana sudah sedikit agak kacau pada waktu itu. Bahkan ada beberapa yang langsung meninggalkan ruangan dan langsung pulang.
1304406245706311786
Salah satu anggota Komisi VIII DPR-RI mencoba untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Mahasiswa Indonesia di Melbourne. Courtesy of: Dirgayuza Setiawan.
Here comes the Bomb Shell …
Salah satu kawan saya (pas saat sesi kacau) sempat berteriak … “Kenapa nggak pakai teleconference aja sih Pak ?” pada saat itu, Bapak Karding menjawab : “Wah itu kan teknisnya terlalu rumit … “ sontak mendengar jawaban tadi hadirin yang umumnya mahasiswa langsung tertawa … lalu ada lagi yang nyeletuk “Pak mau dibikinin account Skype sama saya nggak Pak ?”
Trus ada beberapa anggota Komisi VIII, yg mengatakan, karena keterbatasan waktu kawan2 bisa menghubungi kami lewat email. Tapi ketika serentak kami menanyakan apa alamat email beliau, yang keluar adalah … xxxx@yahoo.com :) . Beberapa hadirin termasuk saya tampak kesal dengan jawaban tersebut, kemudian hadirin menanyakan: “Kami ingin alamat resmi bapak!” , dan dibalas dengan: “nanti ….nanti akan diberikan …. ” pada saat ini penyiar radio PPI Internasional menginterupsi “Tolong disebutkan saja pak disini , jadi semua orang bisa dengar …” , bahkan dengan tantangan itupun sepertinya mereka bapak-bapak/ibu-ibu anggota Komisi VIII itu tidak tahu …apa alamat email resmi mereka … saya lihat ada 1 orang staff ahli yang mendampingi komisi VIII sibuk bolak balik mencoba membagikan kartu nama ( yang itupun dalam kartu nama tersebut tercantum alamat imel Gmail & Yahoo ) … ????
Karena suasana panik dan makin riuh, salah seorang ibu (staff anggota komisi VIII) berteriak, ” KALAU ADA YANG PERLU DITANYAKAN… SILAKAN SAJA KIRIM KE ALAMAT EMAIL : KOMISI DELAPAN AT YAHOO DOT COM.. !!!! ” pada saat itu .. tawa hadirin langsung pecah .. saya sendiri geleng-geleng kepala dan sudah tidak tahu mau bicara apa lagi … (selengkapnya lihat saja disini: http://www.youtube.com/watch?v=8dEjGOPfAqA&feature=youtu.be)
Ada teman yg bilang : Wah kalo gitu mah gak usah jadi anggota DPR, anak saya yg masih kecil juga udah bisa bikin email yahoo sendiri … :)
BTW: setelah acara selesai salah seorang kawan mencoba mengirim test mail (via BB) ke :
- komisiviii@yahoo.com
- komisi8@yahoo.com
- komisidelapan@yahoo.com
- komisiviii@yahoo.co.id
- komisi8@yahoo.co.id
- komisidelapan@yahoo.co.id
and guess what, none of them is working …!!! semua email test bouncing back ke sender , alias alamat yang diberikan tidak ada …!!!!
Lagi-lagi karena tidak puas, saya beserta istri & kawan-kawan mendekati ibu salah satu staff ahli pendamping anggota komisi VIII dalam kunjungan kerja ini, sambil menanyakan alamat resmi, saat itu beliau bilang : “Lihat aja di website DPR nanti kan ada daftar masing-masing komisi, nanti dari situ ada alamat imelnya “
Lagi lagi, kita cek via HP , dan …ternyata tidak ada (kalau tidak percaya silakan cek sendiri ke www.dpr.go.id) , kalau begini mana yang benar ? kalau yang bekerja di DPR saja tidak tahu alamat kontak resmi yang bisa dihubungi, bagaimana dengan orang lain?? Dan jangan salah bahwa, 1 staff DPR memiliki 7 asisten (staf ahli), *Unfortunately* sepertinya tidak satupun dari ke-7 asisten beserta anggota DPR itu sendiri tahu alamat kontak resmi mereka ??? Kalau untuk hal yang sangat mendasar saja mereka tidak kompeten, bagaimana mereka akan membela kepentingan rakyat yang akan mereka wakili ???
Bagaimana tidak, DPR RI, parlemen dari negara dengan jumlah penduduk ke-4 terbesar di dunia, parlemen dari negara anggota G-20 (negara dengan salah satu kekuatan ekonomi & pangsa pasar terbesar di dunia) serta mempunyai anggaran ber-triliun2 rupiah utk gedung baru, lengkap dgn fasilitas & tunjangan lainnya …. masih memakai alamat email gratis utk kontak terhadap rakyat yg di wakilinya … ????
Tidakkah mereka berpikir, bahwa parlemen kita akan menjadi bahan olok-olok parlemen Australia begitu melihat kartu nama dengan alamat imel dari Yahoo / Gmail ???
Ketika ditanya alamat kontak mereka, umumnya mereka kebingungan menjawabnya, yang menurut saya sangat-sangat aneh bukan?? Bagaimana mereka mau mendengar aspirasi rakyat yang mereka wakili jika alamat kontak untuk dihubungipun mereka kebingungan menjawabnya ??
Setelah acara diskusi selesai, beberapa dari kami yang tidak puas, langsung menyerbu dan bertanya langsung ke anggota komisi VIII, ada dari beberapa diantara mereka tidak membawa kartu nama!!! Bagaimana mereka ingin memperkenalkan diri di hadapan anggota parlemen Australia jika kartu nama saja mereka tidak bawa, dan kalaupun ada, mereka mencantumkan alamat imel gratis (yahoo/gmail) sebagai alamat kontak mereka !!!
Pada saat saya mencoba bertanya ke Bapak Karding tentang kunjungan studi banding, saya tanyakan: “Pak bukankah menjadi paradoks bagi DPR bahwa kunjungan studi banding dalam rangka mengentaskan kemiskinan tapi di saat yang sama DPR menghambur-hamburkan uang rakyat yang akan dientaskan kemiskinannya ???”
Ironis sekali memang ternyata, dan syukur …kalau bukan karena kesempatan ini, saya mungkin hanya bisa mendengar dari media massa tentang perilaku anggota DPR, tapi untuk saat ini saya bisa melihat, mendengar & mengalaminya sendiri di depan mata.
Saat itu kami sempat bingung dan bertanya ke salah satu staff senior KJRI : ” Pak apa memang sudah separah inikah keadaan institusi di negara kita ? ” beliau menjawab ( dan mencoba berdiplomasi ) : “Maaf dik saya sendiri belum berkecimpung di dunia politik, mengenai komentar, saya pikir, adik bisa lihat sendiri apa yg terjadi tadi” … ( kayaknya beliau juga shock )
Sebagai Penutup :
BTW: Beberapa kawan sebelum pulang kita sempat bercanda “kayaknya abis malem ini kita bakal susah tidur nih … ” dan banyak yang geleng-geleng kepala sampai keluar pintu KJRI, sepertinya kita masih belum percaya dengan apa yg kita lihat.
Entah mau dibawa kemana negara ini, jika para pemegang amanahnya saja tidak kompeten di bidangnya.
Dan memang ternyata benar, sampai sekarang pukul 6:30 pagi pun saya belum bisa tidur … :) bahkan hingga keesokan harinya, seorang kawan berkelakar di milis “Mungkin coba aja imel ini: k0M151d3L4P4n@yahoo.com kali aja mereka ber-Alay ria…hehehe…”
Laporan oleh: Teguh Iskanto
Diedit oleh: Didi Rul
Frances Oldham Kesley (eng ver)
Now, let's talk a bit about pharmacy history, still in the Q-A form
Q : Who is Frances Odham Kesley?
A : She's a pharmacolist, born 24 July in Canada. Famous as a FDA reviewer that refused t approve Thalidomide being marketed in USA because she had concern about it's safety.
Q : Why is it important?
A : Because at that time, the regulation about drugs are not as strong as now. You don't have to prove your drug is safe or have an effect to be marketed. the Dosage could also be made up by yourselves. This Event is a important milestone for safer, better and proven effective drugs.
Q : How about the event?
A : Dr, Kesley joined FDA in 1960 as one of the scientist group that fight so that drugs have to proven effective to be approved. There were only 11 drug reviewers at that time.
There, Richardson Merrell sent an application for thalidomide to be marketed in USA, with the trade name "Kevadon", a drug that has been widely marketed in Europe and Canada for pregnant mother's "Morning Sickness".
But, even it has been approved in many places elsewhere, Kesley refused it, and demand a further study about the safety of this drug. She kept refusing although there was a huge pressure from pharmacy industries, and the drug has been marketed worldwide.
But, history has shown that she was right. The news from europe supported her. Researches show that Thalidomide can penetrate the plasenta barrier and can cause malformation of babies. Kesley prevented that to happen in USA.
Q : Is there anymore unique things about her?
A : Although a woman, her parents sent her to a private school for boys because that's where she can get good education.
there was also this case where she was thought to be a men by Dr. Geiling, the professor that hired her for a Pharmacology work. Kesley then asked her mentor about wheteher she should take the work or not.
"Don't be silly." the mentor said. "Accept the job, write your name and the (miss) afterwards."
Kesley accepted the job without clarifying that she's a women first.
With Dr. Geiling, she finished the case about the Sulfanilamide Elixir poisoning, that was caused by the use of diethylene glycol as the solvent. Her work with Dr. Geiling got credit in teratogenik.
So, for the pharmacists/apothecary out there, please remember we are the one who guarantee the drug safety and efficacy for the patient.
from :
http://en.wikipedia.org/wiki/Frances_Oldham_Kelsey
http://www.jimplagakis.com/?s=thalidomide&x=0&y=0
Q : Who is Frances Odham Kesley?
A : She's a pharmacolist, born 24 July in Canada. Famous as a FDA reviewer that refused t approve Thalidomide being marketed in USA because she had concern about it's safety.
Q : Why is it important?
A : Because at that time, the regulation about drugs are not as strong as now. You don't have to prove your drug is safe or have an effect to be marketed. the Dosage could also be made up by yourselves. This Event is a important milestone for safer, better and proven effective drugs.
Q : How about the event?
A : Dr, Kesley joined FDA in 1960 as one of the scientist group that fight so that drugs have to proven effective to be approved. There were only 11 drug reviewers at that time.
There, Richardson Merrell sent an application for thalidomide to be marketed in USA, with the trade name "Kevadon", a drug that has been widely marketed in Europe and Canada for pregnant mother's "Morning Sickness".
But, even it has been approved in many places elsewhere, Kesley refused it, and demand a further study about the safety of this drug. She kept refusing although there was a huge pressure from pharmacy industries, and the drug has been marketed worldwide.
But, history has shown that she was right. The news from europe supported her. Researches show that Thalidomide can penetrate the plasenta barrier and can cause malformation of babies. Kesley prevented that to happen in USA.
Q : Is there anymore unique things about her?
A : Although a woman, her parents sent her to a private school for boys because that's where she can get good education.
there was also this case where she was thought to be a men by Dr. Geiling, the professor that hired her for a Pharmacology work. Kesley then asked her mentor about wheteher she should take the work or not.
"Don't be silly." the mentor said. "Accept the job, write your name and the (miss) afterwards."
Kesley accepted the job without clarifying that she's a women first.
With Dr. Geiling, she finished the case about the Sulfanilamide Elixir poisoning, that was caused by the use of diethylene glycol as the solvent. Her work with Dr. Geiling got credit in teratogenik.
So, for the pharmacists/apothecary out there, please remember we are the one who guarantee the drug safety and efficacy for the patient.
from :
http://en.wikipedia.org/wiki/Frances_Oldham_Kelsey
http://www.jimplagakis.com/?s=thalidomide&x=0&y=0
Jumat, 06 Mei 2011
Frances Oldham Kelsey
Kali ini coba bicara mengenai sedikit sejarah farmasi, tetap dalam bentuk Q-A
Q : Siapa sih Frances Oldham Kesley?
A : lahir 24 Juli 1914 di Kanada, seorang farmakologis, terkenal sebagai reviewer FDA yang menolak Thalidomide dipasarkan karena dia memperhatikan keamanan obat
Q : Kok itu penting sih?
A : Soalnya waktu itu, adalah waktu dimana sediaan farmasi tengah kacau. Kau ga harus membuktikan obatmu punya efek ataupun aman untuk dipasarkan. bahkan dosis pun dibikin semaunya sendiri, Kejadian itu tonggak penting untuk sediaan farmasi yang lebih bermutu, aman dan berefek
Q : Gimana sih kejadiannya?
A : Dr. Kesley bergabung di FDA pada 1960 sebagai sekelompok ilmuwan yang berjuang agar obat menunjukkan bukti jelas atas keefektifannya untuk disetujui. disana cuma ada 11 pereview obat waktu itu.
waktu itu, Richardson Merrell mengirimkan aplikasi agar thalidomide bisa dipasarkan di AS, dengan nama dagang Kevadon, obat yang sudah dipasarkan secara luas di eropa dan Kanada untuk "morning Sickness" ibu hamil.
Meski sudah disetujui dimana-mana, Kesley bertahan, dan menginginkan ada studi yang lebih jauh mengenai keamanan obat ini. Padahal sudah ada tekanan yang luar biasa besar dari perusahaan farmasi, apalagi pemasarannya sudah luas.
Namun berita dari Eropa menunjukkan langkahnya benar, penelitian-penelitian menunjukkan Thalidomide dapat menembus barrier plasenta dan berefek teratogenik bagi bayi. Kesley berhasil mencegah kejadian lahirnya bayi cacat di AS
Q : Apalagi yang unik dari Kesley ini?
A : Meski seorang wanita, orang tuanya mengirimkannya ke sekolah swasta untuk laki-laki karena disanalah dia bisa dapat pendidikan yang baik.
Ada juga kejadian dimana dia dikira lelaki oleh Dr. Geiling, profesor yang akan mempekerjakannya di bidang farmakologi. Kesley lalu bertanya pada mentornya apakah dia harus mengambil pekerjaan itu atau tidak.
"Jangan jadi bodoh." katanya, "Terima pekerjaan itu, tulis namamu dan letakkan (nona) setelahnya."
jadi Kesley menerima pekerjaan itu tanpa mengklarifikasi bahwa dia seorang perempuan terlebih dahulu
Bersama Dr. Geilinglah dia mememcahkan kasus keracunan Elixir Sulfanilamida, yang ternyata disebabkan penggunaan dietilen glikol sebagai pelarut. Kerjanya bersama Geiling mendapat kredit di bidang teratogenik.
Jadi, untuk para farmasis/apoteker atau appaun namanya, ingat bahwa kita memastikan keamanan dan efektivitas obat untuk pasien.
dari :
http://en.wikipedia.org/wiki/Frances_Oldham_Kelsey
http://www.jimplagakis.com/?s=thalidomide&x=0&y=0
-
Q : Siapa sih Frances Oldham Kesley?
A : lahir 24 Juli 1914 di Kanada, seorang farmakologis, terkenal sebagai reviewer FDA yang menolak Thalidomide dipasarkan karena dia memperhatikan keamanan obat
Q : Kok itu penting sih?
A : Soalnya waktu itu, adalah waktu dimana sediaan farmasi tengah kacau. Kau ga harus membuktikan obatmu punya efek ataupun aman untuk dipasarkan. bahkan dosis pun dibikin semaunya sendiri, Kejadian itu tonggak penting untuk sediaan farmasi yang lebih bermutu, aman dan berefek
Q : Gimana sih kejadiannya?
A : Dr. Kesley bergabung di FDA pada 1960 sebagai sekelompok ilmuwan yang berjuang agar obat menunjukkan bukti jelas atas keefektifannya untuk disetujui. disana cuma ada 11 pereview obat waktu itu.
waktu itu, Richardson Merrell mengirimkan aplikasi agar thalidomide bisa dipasarkan di AS, dengan nama dagang Kevadon, obat yang sudah dipasarkan secara luas di eropa dan Kanada untuk "morning Sickness" ibu hamil.
Meski sudah disetujui dimana-mana, Kesley bertahan, dan menginginkan ada studi yang lebih jauh mengenai keamanan obat ini. Padahal sudah ada tekanan yang luar biasa besar dari perusahaan farmasi, apalagi pemasarannya sudah luas.
Namun berita dari Eropa menunjukkan langkahnya benar, penelitian-penelitian menunjukkan Thalidomide dapat menembus barrier plasenta dan berefek teratogenik bagi bayi. Kesley berhasil mencegah kejadian lahirnya bayi cacat di AS
Q : Apalagi yang unik dari Kesley ini?
A : Meski seorang wanita, orang tuanya mengirimkannya ke sekolah swasta untuk laki-laki karena disanalah dia bisa dapat pendidikan yang baik.
Ada juga kejadian dimana dia dikira lelaki oleh Dr. Geiling, profesor yang akan mempekerjakannya di bidang farmakologi. Kesley lalu bertanya pada mentornya apakah dia harus mengambil pekerjaan itu atau tidak.
"Jangan jadi bodoh." katanya, "Terima pekerjaan itu, tulis namamu dan letakkan (nona) setelahnya."
jadi Kesley menerima pekerjaan itu tanpa mengklarifikasi bahwa dia seorang perempuan terlebih dahulu
Bersama Dr. Geilinglah dia mememcahkan kasus keracunan Elixir Sulfanilamida, yang ternyata disebabkan penggunaan dietilen glikol sebagai pelarut. Kerjanya bersama Geiling mendapat kredit di bidang teratogenik.
Jadi, untuk para farmasis/apoteker atau appaun namanya, ingat bahwa kita memastikan keamanan dan efektivitas obat untuk pasien.
dari :
http://en.wikipedia.org/wiki/Frances_Oldham_Kelsey
http://www.jimplagakis.com/?s=thalidomide&x=0&y=0
-
Jangan suka merendahkan orang lain
Ini merupakan artikel yang menjadi autokritik bagi dunia farmasi sendiri. Entah kenapa sejak masuk sampai menempuh apoteker saat inim, kayanya di farmasi selalua da kubu-kubu yang selalu menyalahkan satu sama lain, dan ini tidak hanya terjadi di lingkungan Perguruan tinggi, tapi juga merembet keluar.
Pertentangan ini macam-macam, tapi ini yang paling jelas telanjang opik lihat:
Bahan kimia vs Bahan alam
Farmasi Produk vs Produk klinik
1. Bahan Kimia vs Bahan Alam
Nah, ini sih bukan hanya farmasi aja yang tengkar, yang awam-awam tengkar. kalau yang awam-awam tengkarnya sih bahwa bahan alam pasti lebih baik dari bahan kimia, karena pasti lebih aman. Tapi eits, lihat kenyataan dong, gini ya, bagian yang paling terasa beracun di antara seluruh bagian di farmasi ITB, percaya atau tidak, adalah bagian bahan alam. bau segala macam pelarut ada disana, dan boleh dibilang paling kotor diantara bagain farmasi lainnya.
Lalu Bagaimana dengan klaim keamanan. Mungkin banyak diantara kita yang baca obat-obat kimia menemukan efek samping yang rasanya hebat-hebat dan sangat wah, sehingga kita menjadi sangat takut menggunakan obat. Tapi yang bahan alam pun diserang dengan mengatakan bahwa bahan alam itu "seolah-olah" tiada efek samping karena memang tak pernah ada penelitian tentang itu, dan yang diketahui efek sampingnya disembunyikan.bagaimana jika tahu ada efek samping pada suatu bahan kalau tidak pernah diteliti?
Soal bikin sakit atau tidaknya, perlu diingat banyak bahan alam yang jadi racun, sengatan lebah, botulinum pada daging sapi, dan racun panah orang Indian itu apa ga dari bahan alam? bahan kimai diserang bahwa mereka bisa buat hati dan ginjal rusak, tapi toh para pegonsumsi jamu juga harus ingat bahwa banyak pasien yang dirawat di RS yang jebol ginjal dan hatinya karena banyak minum jamu.
Lalu berkenaan dengan keilmiahan. opik kutip perkataan dosen saja, dosen opik waktu itu kesal karena yang milih farmasi kimia sebagai tempat TA lebih sedikit dibandingkan dengan yang bahan alam, jadi keluar ucapannya "kenapa sebuah tempat yang meneliti bahan yang sudah jelas bisa kalah dari tempat yang cuma bekal keberuntungan dan kocok-kocok doang." Keilmiahan bahan alam memang di posisi yang suliyt, karena mereka tak melalui studi yang benar-benar ketat seperti bahan kimia dan kandungannya banyak sehingga membingungkan, bagaimana bisa dibuat hubungan efeknya dengan kandungan yang begitu beragam dan seringkali tak seragam antara sampel kesatu dengan sampel berikutnya.
Ini bermasalah lho, karena sudah banyak contoh bahwa beda tempat, cuaca dan musim bisa membuat kandungan bahan alam berubah, contohnya jahe, ada perusahaan yang biasa mesan jahe dari A berubah mesen ke B, dan ternyata kandungannya 2x lipat yang tak disadari dari awal, ini kan bisa bikin keracunan.
2. Produk vs Pelayanan
Klo produk dibilangin orang-orang yang cuma berada di belakang, maka orang-orang farmasi klinik dibilang tukang obat.
Ngapain bikin produk yang bagus-bagus kalau ga ada yang mau makai...balasannya...Masa namanya farmasi tapi ga bisa buat obat?.
Kalau produk dibilang hanya melakukan pekerjaan sama yang beruangkali dan inovasinya tiada...maka orang-orang pelayanan dibilang orang kurang kerjaan karena stres ga ada pekerjaan.
dan ini kelihatan kok kalau liat mereka bertemu. Apa di farmasi diajarkan egoisme dan golongan mereka adalah yang terbaik? soalnya lihta pelajaran dan kuliahnya saja seperti itu, kenapa sih ga bisa gandeng tangan sama-sama. Kok bisa ada kuliah yang ninggiin RS dan ngerendahin apotek. ini kan udah ga bener. ya panjtes aja farmasi ga maju-maju karena seringnya tengkar antar sesama.
ohya, ini salah satu link dari luar yang bagus
http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/j.2042-7166.2010.01052.x/full
merendahkan sekali bahan alam
Pertentangan ini macam-macam, tapi ini yang paling jelas telanjang opik lihat:
Bahan kimia vs Bahan alam
Farmasi Produk vs Produk klinik
1. Bahan Kimia vs Bahan Alam
Nah, ini sih bukan hanya farmasi aja yang tengkar, yang awam-awam tengkar. kalau yang awam-awam tengkarnya sih bahwa bahan alam pasti lebih baik dari bahan kimia, karena pasti lebih aman. Tapi eits, lihat kenyataan dong, gini ya, bagian yang paling terasa beracun di antara seluruh bagian di farmasi ITB, percaya atau tidak, adalah bagian bahan alam. bau segala macam pelarut ada disana, dan boleh dibilang paling kotor diantara bagain farmasi lainnya.
Lalu Bagaimana dengan klaim keamanan. Mungkin banyak diantara kita yang baca obat-obat kimia menemukan efek samping yang rasanya hebat-hebat dan sangat wah, sehingga kita menjadi sangat takut menggunakan obat. Tapi yang bahan alam pun diserang dengan mengatakan bahwa bahan alam itu "seolah-olah" tiada efek samping karena memang tak pernah ada penelitian tentang itu, dan yang diketahui efek sampingnya disembunyikan.bagaimana jika tahu ada efek samping pada suatu bahan kalau tidak pernah diteliti?
Soal bikin sakit atau tidaknya, perlu diingat banyak bahan alam yang jadi racun, sengatan lebah, botulinum pada daging sapi, dan racun panah orang Indian itu apa ga dari bahan alam? bahan kimai diserang bahwa mereka bisa buat hati dan ginjal rusak, tapi toh para pegonsumsi jamu juga harus ingat bahwa banyak pasien yang dirawat di RS yang jebol ginjal dan hatinya karena banyak minum jamu.
Lalu berkenaan dengan keilmiahan. opik kutip perkataan dosen saja, dosen opik waktu itu kesal karena yang milih farmasi kimia sebagai tempat TA lebih sedikit dibandingkan dengan yang bahan alam, jadi keluar ucapannya "kenapa sebuah tempat yang meneliti bahan yang sudah jelas bisa kalah dari tempat yang cuma bekal keberuntungan dan kocok-kocok doang." Keilmiahan bahan alam memang di posisi yang suliyt, karena mereka tak melalui studi yang benar-benar ketat seperti bahan kimia dan kandungannya banyak sehingga membingungkan, bagaimana bisa dibuat hubungan efeknya dengan kandungan yang begitu beragam dan seringkali tak seragam antara sampel kesatu dengan sampel berikutnya.
Ini bermasalah lho, karena sudah banyak contoh bahwa beda tempat, cuaca dan musim bisa membuat kandungan bahan alam berubah, contohnya jahe, ada perusahaan yang biasa mesan jahe dari A berubah mesen ke B, dan ternyata kandungannya 2x lipat yang tak disadari dari awal, ini kan bisa bikin keracunan.
2. Produk vs Pelayanan
Klo produk dibilangin orang-orang yang cuma berada di belakang, maka orang-orang farmasi klinik dibilang tukang obat.
Ngapain bikin produk yang bagus-bagus kalau ga ada yang mau makai...balasannya...Masa namanya farmasi tapi ga bisa buat obat?.
Kalau produk dibilang hanya melakukan pekerjaan sama yang beruangkali dan inovasinya tiada...maka orang-orang pelayanan dibilang orang kurang kerjaan karena stres ga ada pekerjaan.
dan ini kelihatan kok kalau liat mereka bertemu. Apa di farmasi diajarkan egoisme dan golongan mereka adalah yang terbaik? soalnya lihta pelajaran dan kuliahnya saja seperti itu, kenapa sih ga bisa gandeng tangan sama-sama. Kok bisa ada kuliah yang ninggiin RS dan ngerendahin apotek. ini kan udah ga bener. ya panjtes aja farmasi ga maju-maju karena seringnya tengkar antar sesama.
ohya, ini salah satu link dari luar yang bagus
http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/j.2042-7166.2010.01052.x/full
merendahkan sekali bahan alam
DOTS TBC (eng ver)
This time, i decide to use the Q-A shape, it's more easier to read and understand
Q : What is DOTS TB?
A : DOTS TB is a goverment program to eradicate tuberculosis, it stands for Tuberculosis Directly Observed Treatment Short Course
Q : What is TB?
A : Tuberculosis (TB) is an infectious disease that is caused by the Mycobacterium tuberculosis bactery.
Q : I heard there's a bone TB disease. Doesn't TB only infect the lung?
A : Wrong. TB usually does infect the lung because it's the organ that faces the outer environment, but Mycobacterium tuberculosis can also attack other organs. Opik had a lecture from a RSHS docter that found cases where TB struck bones, brain, testis, skin, stomach, lymph node, etc. So be carefull if you have an open wound, it can be an entrance for Mycobacterium tuberculosis.
Q : How does TB spread?
A : They usually by droplet, the small drops that you blow when you cough or breath. The funny thing is, even the size of Mycobacterium tuberculosis is big, it rides the small droplets, while flu viruses ride the big ones. No wonder the spreading can be far away.
Q : I have many people around me have TB, but why I'm not? Am I immune?
A : There are many people with TB but aren't sick. From the lecture opik had, 1/3 people in indonesia has been infected with droplets. only 1/3 of that get an infectious TB and only 5% from those 1/3 get the real TB. This is because our immune system keep them in check, so a granuloma is formed. As long as the immune system is in good condition and Mycobacterium tuberculosis is dormant (sleeping), the TB won't surface.
Q : If I have TB, can I be healthy again?
A : Ofcourse you can , if you follow the medication with compliance and untill it's finished. Don't stop in the middle please.
Q : How do we cure the disease?
A : Well, with the DOTS, it depends on the patient, is he a first timer, has had a TB in the past, or problematic resistent one.
Q : If the patient has got the TB for the first time, what is the cure?
A : for the first two months, consume these drugs every day:
-INH (Isoniazid) (H)
-RIF (Rifampisin) (R)
-PZA (Pirazinamid) (Z)
-EMB (Etambutol) (E)
Then test your sputum, is it positive or negative. If it's still positive, continue consuming the drugs for 1 month. If it's negative, continue to stage 2
At stage 2, for the next 4 month's, consume these drugs 3 times a week :
-INH (Isoniazid) (H)
-RIF (Rifampisin) (R)
Q : How about patients that had TB before?
A : For the first two months, use these drugs everyday:
-(H)
-(R)
-(Z)
-(E)
-SM (Streptomisin) (S)-this one will be injected
and then test the sputum at the end of the second month, is it positive or negative. If it's still positive, continue using R,H,E,and Z for 1 month. If it's negative, continue to stage 2.
At stage 2, for the next 5 monts, use these drugs 3 times a week :
-(H)
-(R)
-(E)
Q : How about children?
A : For kids, you cannot give them ethambutol, because it will damage their eye. For the first two months, use these drugs everyday :
-(H)
-(R)
-(Z)
dan then continue to satge 2, where for the next 4 months, use these drugs everyday:
-(H)
-(R)
Q : How much is the dosage of these TB drugs?
A :
Q : how does these drugs work?
A : in short they work like this
-Isoniazid
killing the bacteries that are active multiplicating
-Rifampisin
killing semi dormant bacteries
-Etambutol
make the bacteries quiet
-Pirazinamid
Kill the bacteries in acid
-Streptomisin
for relapse/fail cases
for more explanation, just see wikipedia
Q : I heard there are other drugs for TB, how about it?
A : there are. The drugs that I have esplained are the first line drugs for TB, there are also second liners like:
-Aminoglikosida (kanamisin dan amikasin)
-Polipeptida (kapreomisin, PAS, sikloserin)
-Tioamida (etionamida dan protionamida)
-Fluorokuinolon (moksifloksasin,levofloksasin dan gatifloksasin).
There's also a research by prof. Elin Yulinah Sukandar in the Cibadak Lung Hospital where it is discovered that mengkudu and ginger can be used to cure TB, but she didnt give the strength and frequency of the drug use. But it's said that Kimia farma or Kalbe Farma will be releasing the product, named fortibi.
Q : Why should we cure TB with DOTS?
A :
-Individual drug can't kill the resistant bactery, resulting in failure eliminating the disease.
-There's another TB bacteria population (that shows a different pattern in it's drug response) in the patient
-COmbination Theraphy and the newer drug that is more effective can considerably control the disease because even the bacteria is resistant to one drug, it isn't resistant to the other drugs.
Also, it's better to use the first liners first, because it's potent, cheap and the therapy duration is short. But if there's a problem ( like allergy and resistance), then the second liners can be used.
The second liners are more toxic, more expensive, less effective, should be monitored, and the therapy duration is longer. There are also stories from doctors about patients that have hallucination, sing a song and dance by themselves, having amnesia and such things. And remember, most of them should be injected.
Q : How about the cost? is it expensive?
A : No, it;s cheap, and because it's indonesia national program, you could get them for free. Except for the second liners, that some are not covered.
Q : Why are there cases where the TB therapy doesn't follow these guides? like doctor's prescription that aren't like what you say and patients that stop before finishing.
A : Yup, that's a deviation. If there are no problems, the guide above should be followed, because there is a possiblity a resistance problem emerge and the disease become immune and furious. Patients should also remember that the Mycobacterium tuberculosis is still there even if he feel's that he is already healthy, and it wait's to attack again, so it should be cured until the end.
Q : Are there problem that should be considered?
A : Yes, Rifampisin will make your urine red, but only that, so don't worry. Etambutol can also cause your view become blurry. INH depletes your B6 vitamins, so you should eat foods or drink containing it more or supplements. And, pregnant or breast feeding moms are safe to use these TB drugs, except streptomisin. The baby that is nursed should get INH to prevent it getting TB from it's mom.
-from ITB and guest lectures in the ITB apothecary program.
Q : What is DOTS TB?
A : DOTS TB is a goverment program to eradicate tuberculosis, it stands for Tuberculosis Directly Observed Treatment Short Course
Q : What is TB?
A : Tuberculosis (TB) is an infectious disease that is caused by the Mycobacterium tuberculosis bactery.
Q : I heard there's a bone TB disease. Doesn't TB only infect the lung?
A : Wrong. TB usually does infect the lung because it's the organ that faces the outer environment, but Mycobacterium tuberculosis can also attack other organs. Opik had a lecture from a RSHS docter that found cases where TB struck bones, brain, testis, skin, stomach, lymph node, etc. So be carefull if you have an open wound, it can be an entrance for Mycobacterium tuberculosis.
Q : How does TB spread?
A : They usually by droplet, the small drops that you blow when you cough or breath. The funny thing is, even the size of Mycobacterium tuberculosis is big, it rides the small droplets, while flu viruses ride the big ones. No wonder the spreading can be far away.
Q : I have many people around me have TB, but why I'm not? Am I immune?
A : There are many people with TB but aren't sick. From the lecture opik had, 1/3 people in indonesia has been infected with droplets. only 1/3 of that get an infectious TB and only 5% from those 1/3 get the real TB. This is because our immune system keep them in check, so a granuloma is formed. As long as the immune system is in good condition and Mycobacterium tuberculosis is dormant (sleeping), the TB won't surface.
Q : If I have TB, can I be healthy again?
A : Ofcourse you can , if you follow the medication with compliance and untill it's finished. Don't stop in the middle please.
Q : How do we cure the disease?
A : Well, with the DOTS, it depends on the patient, is he a first timer, has had a TB in the past, or problematic resistent one.
Q : If the patient has got the TB for the first time, what is the cure?
A : for the first two months, consume these drugs every day:
-INH (Isoniazid) (H)
-RIF (Rifampisin) (R)
-PZA (Pirazinamid) (Z)
-EMB (Etambutol) (E)
Then test your sputum, is it positive or negative. If it's still positive, continue consuming the drugs for 1 month. If it's negative, continue to stage 2
At stage 2, for the next 4 month's, consume these drugs 3 times a week :
-INH (Isoniazid) (H)
-RIF (Rifampisin) (R)
Q : How about patients that had TB before?
A : For the first two months, use these drugs everyday:
-(H)
-(R)
-(Z)
-(E)
-SM (Streptomisin) (S)-this one will be injected
and then test the sputum at the end of the second month, is it positive or negative. If it's still positive, continue using R,H,E,and Z for 1 month. If it's negative, continue to stage 2.
At stage 2, for the next 5 monts, use these drugs 3 times a week :
-(H)
-(R)
-(E)
Q : How about children?
A : For kids, you cannot give them ethambutol, because it will damage their eye. For the first two months, use these drugs everyday :
-(H)
-(R)
-(Z)
dan then continue to satge 2, where for the next 4 months, use these drugs everyday:
-(H)
-(R)
Q : How much is the dosage of these TB drugs?
A :
Q : how does these drugs work?
A : in short they work like this
-Isoniazid
killing the bacteries that are active multiplicating
-Rifampisin
killing semi dormant bacteries
-Etambutol
make the bacteries quiet
-Pirazinamid
Kill the bacteries in acid
-Streptomisin
for relapse/fail cases
for more explanation, just see wikipedia
Q : I heard there are other drugs for TB, how about it?
A : there are. The drugs that I have esplained are the first line drugs for TB, there are also second liners like:
-Aminoglikosida (kanamisin dan amikasin)
-Polipeptida (kapreomisin, PAS, sikloserin)
-Tioamida (etionamida dan protionamida)
-Fluorokuinolon (moksifloksasin,levofloksasin dan gatifloksasin).
There's also a research by prof. Elin Yulinah Sukandar in the Cibadak Lung Hospital where it is discovered that mengkudu and ginger can be used to cure TB, but she didnt give the strength and frequency of the drug use. But it's said that Kimia farma or Kalbe Farma will be releasing the product, named fortibi.
Q : Why should we cure TB with DOTS?
A :
-Individual drug can't kill the resistant bactery, resulting in failure eliminating the disease.
-There's another TB bacteria population (that shows a different pattern in it's drug response) in the patient
-COmbination Theraphy and the newer drug that is more effective can considerably control the disease because even the bacteria is resistant to one drug, it isn't resistant to the other drugs.
Also, it's better to use the first liners first, because it's potent, cheap and the therapy duration is short. But if there's a problem ( like allergy and resistance), then the second liners can be used.
The second liners are more toxic, more expensive, less effective, should be monitored, and the therapy duration is longer. There are also stories from doctors about patients that have hallucination, sing a song and dance by themselves, having amnesia and such things. And remember, most of them should be injected.
Q : How about the cost? is it expensive?
A : No, it;s cheap, and because it's indonesia national program, you could get them for free. Except for the second liners, that some are not covered.
Q : Why are there cases where the TB therapy doesn't follow these guides? like doctor's prescription that aren't like what you say and patients that stop before finishing.
A : Yup, that's a deviation. If there are no problems, the guide above should be followed, because there is a possiblity a resistance problem emerge and the disease become immune and furious. Patients should also remember that the Mycobacterium tuberculosis is still there even if he feel's that he is already healthy, and it wait's to attack again, so it should be cured until the end.
Q : Are there problem that should be considered?
A : Yes, Rifampisin will make your urine red, but only that, so don't worry. Etambutol can also cause your view become blurry. INH depletes your B6 vitamins, so you should eat foods or drink containing it more or supplements. And, pregnant or breast feeding moms are safe to use these TB drugs, except streptomisin. The baby that is nursed should get INH to prevent it getting TB from it's mom.
-from ITB and guest lectures in the ITB apothecary program.
Senin, 02 Mei 2011
DOTS TBC
kali ini bentuknya jadi tanya jawab aja deh, biar gampang.
Q : DOTS TBC/TB itu apa sih?
A : DOTS TB adalah program pemerintah indonesia untuk memberantas penyakit tuberkulosis, kependekan dari Tuberculosis Directly Observed Treatment Short Course.
Q : Emang TB itu apa?
A : Tuberculosis (TB) adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis.
Q : Kok ada katanya TB tulang ya? Bukannya TB cuma nyerang paru-paru aja?
A : Salah. TB memang biasanya menyerang paru-paru karena paru-paru berhubungan dengan udara luar, tapi Mycobacterium tuberculosis juga bisa nyerang organ lain. Opik dapat kuliah dari dokter di RSHS yang menemukan kasus dimana TB nyerang tulang, otah, buah zakar, kulit, jaringan perut, dll. Makanya hati-hati kalau ada luka terbuka, itu bisa jadi salah satu jalan masuk Mycobacterium tuberculosis lho.
Q : Gimana sih cara penyebaran TB?
A : Secara umum, lewat droplet, yaitu butiran-butiran kecil dahak yang tersembur ketika bernapas atau batuk. Ini yang unik, meski ukuran Mycobacterium tuberculosisbesar-besar, dia numpang pada droplet-droplet yang kecil-kecil, sedangkan virus flu numpangnya di droplet yang gede-gede. Karena numpangnya di droplet yang kecil, penyebarannya bisa jauh.
Q : Di sekitar saya banyak orang yang kena TB, saya kok ga kena? apa saya kebal?
A : Memang banyak orang bawa penyakit TB tapi ga sakit. Dari kulaih yang opik dapat, diperkirakan sepertiga orang di Indonesia kena sebaran TB, sepertiga dari itu kuman TB-nya menginfeksi, tapi hanya 5% dari 1/3 itu yang ada gejala TB-nya. Ini karena ada sistem imun tubuh, jadi nanti terbentuk suatu bada yang dinamakn granuloma. Selama sistem imun tubuh bagus dan Mycobacterium tuberculosis dalam keadaan dormant (tidur), gejala TB ga bakal nampak.
Q : Kalau misalnya sakit TB, bisa sembuh ga sih?
A : sangat bisa, asal mau mengikuti pengobatan secara benar dan tuntas.
Q : Cara mengobati penyakitnya bagaimana?
A : ya dengan program DOTS tadi, tergantung pasiennya pasien baru kena TB, pernah sakit TB, atau resisten.
Q : Kalau misalnya pasien baru kena TB, cara ngobatinnya bagaimana?
A : Untuk 2 bulan pertama, setiap hari minum obat sbb:
-INH (Isoniazid) (H)
-RIF (Rifampisin) (R)
-PZA (Pirazinamid) (Z)
-EMB (Etambutol) (E)
lalu dites dahaknya, apakah masih positif atau sudah negatif. kalau masih positif, diteruskan minum obatnya selama 1 bulan. Kalau negatif diteruskan ke tahap 2
Pada tahap 2, untuk 4 bulan berikutnya, minum obatnya 3 kali dalam seminggu, yaitu :
-INH (Isoniazid) (H)
-RIF (Rifampisin) (R)
Q : Kalau pasien sudah pernah kena TB?
A : Untuk 2 bulan pertama, setiap hari dapat obat sbb:
-(H)
-(R)
-(Z)
-(E)
-SM (Streptomisin) (S)-ini harus diinjeksikan
lalu dites dahaknya, apakah masih positif atau sudah negatif. kalau masih positif, diteruskan minum R,H,E,Z selama 1 bulan. Kalau negatif diteruskan ke tahap 2
Pada tahap 2, untuk 5 bulan berikutnya, minum obatnya 3 kali dalam seminggu, yaitu :
-(H)
-(R)
-(E)
Q : Kalau untuk anak-anak?
A : Untuk anak, ga boleh dikasih etambutol, soalnya bikin mata rusak.Untuk 2 bulan pertama, setiap hari dapat obat sbb:
-(H)
-(R)
-(Z)
dan langsung masuk tahap 2, untuk 4 bulan berikutnya, minum obatnya 3setiap hari, yaitu :
-(H)
-(R)
Q : Dosis/jumlah obat yang dipakai berapa?
A :
Q : Kerja obat-obatan di atas gimana sih?
A : Singkatnya begini :
-Isoniazid
Membunuh kuman yg sdg aktif berkembang
-Rifampisin
Membunuh kuman semi-dormant
-Etambutol
Melumpuhkan kuman
-Pirazinamid
Membunuh kuman dlm sel suasana asam
-Streptomisin
Untuk kasus kambuh/gagal
Kalau untuk penjelasan lebih lanjut, ke wikipedia aja
Q : saya dengar Ada obat-obat lain untuk TB, itu bagaimana?
A : Memang ada. Obat-obatan yang tadi adalah lini pertama untuk TB, ada juga obat2 lini kedua seperti:
-Aminoglikosida (kanamisin dan amikasin)
-Polipeptida (kapreomisin, PAS, sikloserin)
-Tioamida (etionamida dan protionamida)
-Fluorokuinolon (moksifloksasin,levofloksasin dan gatifloksasin).
Selain itu, ada pula penelitian oleh prof Elin Yulinah Sukandar di RS paru Cibadak yang menemukan bahwa mengkudu dan jahe dapat dipakai untuk menyembuhkan TB, sayang dosis dan frekuensinya dirahasiakan, tapi katanya Kalbe atau Kimia farma udah ngeluarin produknya, namanya fortibi.
Q : Kenapa sih ngobatin TB harus pakai DOTS?
A : -Obat tunggal tdk membunuh kuman yg resisten sehingga akan gagal mengeliminasi penyakit
-Adanya populasi kuman TB lain (yg memperlihatkan pola yg berbeda dlm merespon Obat) terdapat pd pasien.
-Sejak ditemukannya Obat pertama, mulai timbul kuman resisten terhadap obat.
-Kombinasi terapi dan adanya obat baru yg lebih efektif cukup dpt mengontrol penyakit karena meski kuman resisten terhadap satu obat, dia tidak resisten pada obat lainnya.
Selain itu lebih baik pakai yang lini pertama dulu, karena obatnya bagus, murah, dan lama pengobatannya singkat. Cuma kalau ada masalah (misalnya alergi dan reasistensi) apa boleh buat, obat lini kedua diapakai
Kalau udah masuk lini kedua, Pengobatan lebih lama, Lebih Toksik, Lebih Mahal,Kurang efektif dr lini 1, Hrs diawasi langsung. Dokter yang beri kuliah cerita ada pasien yang berhalunisasi, bernyanyi-nyanyi ama nari-nari sendiri ketika diberi obat lini kedua. Apalagi banyak yang harus disuntik.
Q : Biaya pengobatannya gimana? mahal ga?
A : Tidak, murah malah, bahkan ada yang gratis. Tanya aja ke puskesmas atau RS. Di RS Hasan Sadikin gratis tuh. kecuali untuk obat selain lini pertama
Q : Kok banyak kejadian yang menyimpang dari ini ya? Kaya resep dokter lain dari yang diatas atau ada pasien yang berhenti sebelum selesai.
A : Ya, itu adalah penyimpangan. Kalau tidak ada masalah, panduan diatas harus dituruti, karena takutnya akan timbul masalah resistensi dan penyakitnya jadi kebal bin ganas. Pasien juga harus ingat bahwa Mycobacterium tuberculosis masih ada meski dia merasa sudah sehat, dan menunggu untuk kambuh, sehingga harus diobati sampai tuntas.
Q : Apakah ada masalah yang harus diperhatikan?
A : Ya, rifampisin bakal menyebabkan urin anda merah, tapi ga usah khawatir. Etambutol juga bisa menyebabkan pandangan kabur. Ohya, ibu hamil dan meyusui aman minum obat TB lini pertama, kecuali streptomisin
-dikutip dari kuliah-kuliah tamu dari RSHS dan ITB sendiri pada program Apoteker ITB
Q : DOTS TBC/TB itu apa sih?
A : DOTS TB adalah program pemerintah indonesia untuk memberantas penyakit tuberkulosis, kependekan dari Tuberculosis Directly Observed Treatment Short Course.
Q : Emang TB itu apa?
A : Tuberculosis (TB) adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis.
Q : Kok ada katanya TB tulang ya? Bukannya TB cuma nyerang paru-paru aja?
A : Salah. TB memang biasanya menyerang paru-paru karena paru-paru berhubungan dengan udara luar, tapi Mycobacterium tuberculosis juga bisa nyerang organ lain. Opik dapat kuliah dari dokter di RSHS yang menemukan kasus dimana TB nyerang tulang, otah, buah zakar, kulit, jaringan perut, dll. Makanya hati-hati kalau ada luka terbuka, itu bisa jadi salah satu jalan masuk Mycobacterium tuberculosis lho.
Q : Gimana sih cara penyebaran TB?
A : Secara umum, lewat droplet, yaitu butiran-butiran kecil dahak yang tersembur ketika bernapas atau batuk. Ini yang unik, meski ukuran Mycobacterium tuberculosisbesar-besar, dia numpang pada droplet-droplet yang kecil-kecil, sedangkan virus flu numpangnya di droplet yang gede-gede. Karena numpangnya di droplet yang kecil, penyebarannya bisa jauh.
Q : Di sekitar saya banyak orang yang kena TB, saya kok ga kena? apa saya kebal?
A : Memang banyak orang bawa penyakit TB tapi ga sakit. Dari kulaih yang opik dapat, diperkirakan sepertiga orang di Indonesia kena sebaran TB, sepertiga dari itu kuman TB-nya menginfeksi, tapi hanya 5% dari 1/3 itu yang ada gejala TB-nya. Ini karena ada sistem imun tubuh, jadi nanti terbentuk suatu bada yang dinamakn granuloma. Selama sistem imun tubuh bagus dan Mycobacterium tuberculosis dalam keadaan dormant (tidur), gejala TB ga bakal nampak.
Q : Kalau misalnya sakit TB, bisa sembuh ga sih?
A : sangat bisa, asal mau mengikuti pengobatan secara benar dan tuntas.
Q : Cara mengobati penyakitnya bagaimana?
A : ya dengan program DOTS tadi, tergantung pasiennya pasien baru kena TB, pernah sakit TB, atau resisten.
Q : Kalau misalnya pasien baru kena TB, cara ngobatinnya bagaimana?
A : Untuk 2 bulan pertama, setiap hari minum obat sbb:
-INH (Isoniazid) (H)
-RIF (Rifampisin) (R)
-PZA (Pirazinamid) (Z)
-EMB (Etambutol) (E)
lalu dites dahaknya, apakah masih positif atau sudah negatif. kalau masih positif, diteruskan minum obatnya selama 1 bulan. Kalau negatif diteruskan ke tahap 2
Pada tahap 2, untuk 4 bulan berikutnya, minum obatnya 3 kali dalam seminggu, yaitu :
-INH (Isoniazid) (H)
-RIF (Rifampisin) (R)
Q : Kalau pasien sudah pernah kena TB?
A : Untuk 2 bulan pertama, setiap hari dapat obat sbb:
-(H)
-(R)
-(Z)
-(E)
-SM (Streptomisin) (S)-ini harus diinjeksikan
lalu dites dahaknya, apakah masih positif atau sudah negatif. kalau masih positif, diteruskan minum R,H,E,Z selama 1 bulan. Kalau negatif diteruskan ke tahap 2
Pada tahap 2, untuk 5 bulan berikutnya, minum obatnya 3 kali dalam seminggu, yaitu :
-(H)
-(R)
-(E)
Q : Kalau untuk anak-anak?
A : Untuk anak, ga boleh dikasih etambutol, soalnya bikin mata rusak.Untuk 2 bulan pertama, setiap hari dapat obat sbb:
-(H)
-(R)
-(Z)
dan langsung masuk tahap 2, untuk 4 bulan berikutnya, minum obatnya 3setiap hari, yaitu :
-(H)
-(R)
Q : Dosis/jumlah obat yang dipakai berapa?
A :
Q : Kerja obat-obatan di atas gimana sih?
A : Singkatnya begini :
-Isoniazid
Membunuh kuman yg sdg aktif berkembang
-Rifampisin
Membunuh kuman semi-dormant
-Etambutol
Melumpuhkan kuman
-Pirazinamid
Membunuh kuman dlm sel suasana asam
-Streptomisin
Untuk kasus kambuh/gagal
Kalau untuk penjelasan lebih lanjut, ke wikipedia aja
Q : saya dengar Ada obat-obat lain untuk TB, itu bagaimana?
A : Memang ada. Obat-obatan yang tadi adalah lini pertama untuk TB, ada juga obat2 lini kedua seperti:
-Aminoglikosida (kanamisin dan amikasin)
-Polipeptida (kapreomisin, PAS, sikloserin)
-Tioamida (etionamida dan protionamida)
-Fluorokuinolon (moksifloksasin,levofloksasin dan gatifloksasin).
Selain itu, ada pula penelitian oleh prof Elin Yulinah Sukandar di RS paru Cibadak yang menemukan bahwa mengkudu dan jahe dapat dipakai untuk menyembuhkan TB, sayang dosis dan frekuensinya dirahasiakan, tapi katanya Kalbe atau Kimia farma udah ngeluarin produknya, namanya fortibi.
Q : Kenapa sih ngobatin TB harus pakai DOTS?
A : -Obat tunggal tdk membunuh kuman yg resisten sehingga akan gagal mengeliminasi penyakit
-Adanya populasi kuman TB lain (yg memperlihatkan pola yg berbeda dlm merespon Obat) terdapat pd pasien.
-Sejak ditemukannya Obat pertama, mulai timbul kuman resisten terhadap obat.
-Kombinasi terapi dan adanya obat baru yg lebih efektif cukup dpt mengontrol penyakit karena meski kuman resisten terhadap satu obat, dia tidak resisten pada obat lainnya.
Selain itu lebih baik pakai yang lini pertama dulu, karena obatnya bagus, murah, dan lama pengobatannya singkat. Cuma kalau ada masalah (misalnya alergi dan reasistensi) apa boleh buat, obat lini kedua diapakai
Kalau udah masuk lini kedua, Pengobatan lebih lama, Lebih Toksik, Lebih Mahal,Kurang efektif dr lini 1, Hrs diawasi langsung. Dokter yang beri kuliah cerita ada pasien yang berhalunisasi, bernyanyi-nyanyi ama nari-nari sendiri ketika diberi obat lini kedua. Apalagi banyak yang harus disuntik.
Q : Biaya pengobatannya gimana? mahal ga?
A : Tidak, murah malah, bahkan ada yang gratis. Tanya aja ke puskesmas atau RS. Di RS Hasan Sadikin gratis tuh. kecuali untuk obat selain lini pertama
Q : Kok banyak kejadian yang menyimpang dari ini ya? Kaya resep dokter lain dari yang diatas atau ada pasien yang berhenti sebelum selesai.
A : Ya, itu adalah penyimpangan. Kalau tidak ada masalah, panduan diatas harus dituruti, karena takutnya akan timbul masalah resistensi dan penyakitnya jadi kebal bin ganas. Pasien juga harus ingat bahwa Mycobacterium tuberculosis masih ada meski dia merasa sudah sehat, dan menunggu untuk kambuh, sehingga harus diobati sampai tuntas.
Q : Apakah ada masalah yang harus diperhatikan?
A : Ya, rifampisin bakal menyebabkan urin anda merah, tapi ga usah khawatir. Etambutol juga bisa menyebabkan pandangan kabur. Ohya, ibu hamil dan meyusui aman minum obat TB lini pertama, kecuali streptomisin
-dikutip dari kuliah-kuliah tamu dari RSHS dan ITB sendiri pada program Apoteker ITB
Langganan:
Postingan (Atom)