Jumat, 25 Februari 2011

Penerimaan mahasiswa Baru ITB

 dari http://km.itb.ac.id/site/?p=942

Sistem penerimaan mahasiswa-baru (maba) tahun 2011 di ITB menuai banyak pertanyaan dan tentu saja, keluhan. Bagaimana tidak, sekilas dari sekian banyak informasi yang diuraikan dalam situs penginformasian (http://usm.itb.ac.id/) mekanisme pendaftaran dan pembiayaan, ada salah satu poin yang seolah menjadi perhatian utama para pembaca –besar BPPM (Biaya Penyelenggarakan Pendidikan yang dibayar di Muka) yang dituliskan sebesar Rp 55juta. Belum lagi pertanyaan-pertanyaan seputar jalur undangan: latar belakang, efektivitas, mekanisme penyeleksian, dan sebagainya.
Sedikit curhat, bagi siswa yang memang berasal dari keluarga yang benar-benar tidak mampu bahkan penghasilan orang tua di bawah UMR, mungkin hal itu tidak memberikan efek yang begitu besar. Karena baik besar BPPM dua tahun yang lalu maupun BPPM sekarang yang hampir dua kali lipatnya, sama saja tidak mampu membayar kecuali dengan beasiswa. Jadi, beasiswalah yang menjadi targetnya tanpa memperdulikan besar BPPM tersebut.
Lalu bagaimana dengan siswa yang berasal dari keluarga ‘pas-pasan?’ bagaimana nasib siswa yang berasal dari daerah namun tidak termasuk siswa dari kalangan tidak mampu? Teman-teman, ITB sebenarnya telah mempertimbangkan kekhawatiran tersebut.
100% SNMPTN: undangan dan tertulis
Berdasarkan Permendiknas no. 34 tahun 2010 Perguruan Tinggi wajib menerima paling sedikit 60% mahasiswa baru melalui pola penerimaan mahasiswa baru secara nasional (SNMPTN). Pada pasal berikutnya tertulis bahwa pola penerimaan tersebut dilaksanakan melalui ujian tertulis dan/atau undangan berdasarkan penjaringan prestasi akademik. ITB sendiri menentukan bahwa penerimaan mahasiswa baru tahun 2011 akan dilaksanakan 100% melalui jalur SNMPTN dengan komposisi 60% melalui jalur undangan dan 40% melalui tes tertulis dan/atau keterampilan. Artinya, ITB tidak lagi mengadakan Ujian mandiri (PMBP ITB).
Kritik dan keluhan beberapa kali terdengar baik melalui berbagai media mengenai penerimaan melalui jalur undangan ini. beberapa diantaranya mengkhawatirkan kualitas mahasiswa ITB tidak terjamin karena tidak ada tes, atau mengkhawatirkan siswa cerdas yang menempuh pendidikan bukan di sekolah yang berakreditasi sehingga tidak mendapat undangan. Mengenai hal ini, perlu diluruskan bahwa pada mekanismenya, bukan ITB yang mengundang sekolah tertentu untuk mendaftarkan siswanya mengikuti penyeleksian melalui jalur undangan, tetapi semua sekolah diberi kesempatan untuk mendaftarkan siswanya yang berprestasi sebanyak-banyaknya sesuai ketentuan berikut:
Akreditasi A (Aksel) : 100% terbaik di kelas
Akreditasi A (RSBI/Unggulan) : 75% terbaik di kelas
Akreditasi A (reguler) : 50% terbaik di kelas
Akreditasi B (reguler) : 25% terbaik di kelas
Akreditasi C (reguler) : 10% terbaik di kelas
Melihat ketentuan di atas, ITB telah berusaha memberikan porsi dengan adil dengan fleksibilitas persentase. Sekolah dengan tingkat persaingan lebih tinggi tentu diberikan persentase lebih besar. Walaupun pada pelaksanaannya ITB mempersilakan pihak sekolah untuk mendaftarkan lebih banyak siswanya dengan metode perankingan berdasarkan mata pelajaran yang disertakan dalam Ujian Nasional. Sayangnya, sampai saat penulis menerima informasi dari Kasubdit Penjaringan Mahasiswa (16/02/2011), dari jumlah 17.000 SMA di Indonesia, baru sekitar 500 SMA yang telah mendaftar untuk mengikuti SNMPTN jalur undangan ke ITB. kalau mengaku peduli, saya rasa di sini lah seharusnya kita berperan: memberikan informasi dan persuasi kepada –palingtidak—SMA-SMA di daerah asal agar mendaftarkan dirinya di jalur undangan, sebelum 12 Maret 2011.

Dengan adanya jalur undangan ini, diharapkan ITB dapat mensupport pelaksanaan keterpaduan pelaksanaan pendidikan secara horisontal (dari sabang-Merauke). Bagaimana hal tersebut dapat terjadi? Kita sadari bersama bahwa peminat ujian masuk ITB mayoritas merupakan siswa yang berasal dari daerah perkotaan, terutama dari sekolah-sekolah favorite di kotanya. Berdasarkan pengalaman penulis, tidak banyak siswa daerah yang –bahkan—percaya diri untuk mendaftar. Baik karena masalah kapasitas akademik maupun keuangan.
Kita tidak pernah tahu bahwa seseorang yang biasa-biasa saja dalam mengerjakan soal tes mungkin saja memiliki potensi yang sama atau bahkan lebih besar dari oang yang terampil dan lulus dalam mengerjakan soal tes karena telah terlatih dalam menghadapi soal-soal sejenis, mendapat support lebih besar dan memiliki waktu belajar yang lebih banyak. Sementara seorang yang lain mendapat pendidikan yang biasa-biasa saja –kalau tidak bisa dikatakan seadanya–, harus berusaha membantu memenuhi kebutuhan hidup keluarga, dan jarang sekali menemukan soal sejenis itu. melalui jalur ini, kemendiknas mencoba bertindak lebih bijak dengan memberikan kesempatan melalui jalur undangan di mana para siswa dapat bersaing sesuai tingkatannya dengan mempertimbangkan prestasinya di SMA. Selain itu, dalam penyeleksiannya, diterima tidaknya mahasiswa melalui seleksi jalur undangan ini ditentukan oleh ITB dan bukan oleh Panitia Nasional. Dalam hal ini ITB bisa menggunakan kriteria tambahan lainnya disamping prestasi akademik, yang oleh ITB dianggap baik dan bermanfaat untuk masyarakat secara holistik, seperti pertimbangan kebutuhan daerah, kawasan tertinggal dll.nya.  (Hasanuddin Z. Abidin: 2010)
Jadi, saya kira tidak ada yang harus dikhawatirkan dengan adanya jalur undangan ini. tentunya pembuatan sistem ini telah mempertimbangkan berbagai hal termasuk kriteria calon mahasiswa yang dapat diterima. Terkait dengan kecurangan yang mungkin terjadi, panitia telah menetapkan untuk memberikan hukuman berupa pelarangan (blacklist) mengikuti SNMPTN ke perguruan tinggi manapun selama 2 tahun.
Biaya Pendidikan yang dibayar di Muka
Ini dia yang membawa kekhawatiran dan ketakutan yang besar. Pernyataan yang disampaikan ITB di situs penerimaan mahasiswa baru mungkin terdengar agak menakutkan dengan adanya kewajiban membaya BPPM sebesar minimal Rp 55 juta. Ternyata, aturannya tidak sesaklek itu, teman-teman. Ada banyak kesempatan untuk mahasiswa baru mendapatkan subsidi. ITB sendiri memiliki target dari 100% mahasiswa baru baik melalui jalur undangan maupun tes tertulis, minimal 20% mendapatkan kursi gratis alias dibebaskan dari BPPM dan BPPS, minimal 40% mendapat subsidi yang bervariasi antar 25%, 50% atau 75%, sedangkan 40% sisanya diharapkan dapat membayar BPPM lebih besar samadengan Rp55jt. tentu saja angka-angka tersebut merupakan hasil perhitungan berdasarkan data. Saya sendiri yakin, banyak dari calon mahasiswa nanti yang benar-benar mampu untuk membayar lebih besar dari Rp 55juta. Dengan adanya sistem penyesuaian BPPM berdasarkan keadaan ekonomi ini, diharapkan akan mewujudkan sistem pembayaran yang berkeadilan sehingga biaya masuk ITB bisa tetap terjangkau oleh semua kalangan.
Kriteria seperti apa yang berhak masuk ketiga kategori di atas memang belum ada kepastian, namun pendaftar dibebaskan mengisi form kesediaan membayar BPPM sesuai kemampuannya. (Dalam formulir kesediaan membayar BPPM, tertera ketiga pilihan di atas) Hanya saja paling tidak pendaftar mengisi pilihan sebesar 10% penghasilannya perbulan selama 2 tahun. Jika demikian, penghasilan di bawah Rp 5juta berarti  masih diperbolehkan untuk mendapatkan subsidi sebesar 75%. Yang pasti, setelah diterima di ITB, pendaftar akan dimintai beberapa berkas yang diperlukan sebagai bahan pertimbangan termasuk jumlah tanggungan keluarga walaupun besar gaji sama akan menjadi bahan pertimbangan ke depannya.
Pertanyaan selanjutnya yang mungkin muncul di benak teman-teman adalah: “dari mana ITB akan mendapatkan uang sebanyak itu untuk mensubsidi?”. SKD ITB mungkin perlu bekerja lebih keras untuk ini.  kita berdo’a dan ikut mengawasi sajalah, jangan sampai kebutuhan dana yang besar menimbulkan dampak negatif terhadap kualitas ITB, tentunya dengan tetap mengupayakan adanya gerakan yang membantu teman-teman mahasiswa lain menuntaskan masalah pembiayaan kuliah. Mungkin teman-teman dari tim beasiswa telah memulai upayanya melalui GLB. Saya rasa sistem ini sudah baik. tinggal pelaksanaannya. Kalau perlu, kita ikut serta melakukan pengawasan dengan memerhatikan kesejahteraan KM ITB ke depannya.
Beasiswa BIDIK MISI
Peminat beasiswa bidik misi (biaya kuliah+biaya hidup) dapat mendaftarkan diri ke sekolahnya masing-masing. Untuk selanjutnya kepala sekolah mendaftarkan siswa tersebut sebagai calon penerima beasiswa bidikmisi. Setelah pendaftar tersebut diterima barulah berkas-berkas yang diperlukan –jika ada—akan diminta. Begitu pula dengan beasiswa lain yang diselenggarakan oleh ITB.
Sebagaimana telah diutarakan di atas bahwa ITB menargetkan minimal 20% mahasiswa baru dibebaskan dari biaya kuliah, yang rencananya akan didapat melalui jalur undangan. Namun, apabila ternyata melalui jalur undangan ini jumlah mahasiswa yang berhak masih di bawah 20%, ITB masih membuka kesempatan melalui jalur tes tertulis.
Lalu apa yang dapat kita lakukan terkait isu ini?
Banyak siswa yang mungkin menjadi takut dengan besar BPPM yang disyaratkan ITB. Namun kita bisa meyakinkan mereka bahwa ada banyak beasiswa di ITB, dan selalu ada tempat untuk orang-orang yang mau berusaha mendapatkan apa yang dicitakan. Jangan perbesar image “MAHAL” nya, tapi tonjolkan bahwa mereka –adik-adik kita—bisa berkuliah di ITB dengan  segala potensi yang dimilikinya, termasuk taraf ekonominya. Biarlah protes kita akan biaya yang mahal –yang sebenarnya ditargetkan untuk mahasiswa dengan taraf ekonomi tertentu—hanya didengar pihak rektorat atau sesama mahasiswa saja. Namun perdengarkanlah kepada adik-adik kita segala kelebihan ITB, tentang cita-cita besarnya, tentang prestasi yang akan kita buat di kampus ini maupun di masyarakat, dan sebuah janji bahwa tidak akan ada mahasiswa yang DO karena permasalahan ekonomi. Karena kita akan selalu ada untuk kita. Dan bahwa rektorat juga manusia.
Sumber:
-          wawancara dengan Kasubdit Penjaringan Mahasiswa
-          Keterangan Wakil Rektor bidang Komunikasi, Kemitraan, dan Alumni
-          Itb.ac.id/usm-itb
Regards,
Karissa Mayangsunda Philomela – 15309008
bius 2009 / penkesma km itb 1011

Petisi 55

dari : http://km.itb.ac.id/site/?p=1074
Perubahan sistem penerimaan mahasiswa baru ITB pada tahun 2011, berpeluang besar untuk mencederai  kesamaan hak masyarakat untuk mengenyam pendidikan di Institut Teknologi Bandung. Tiidak hanya itu, ada beberapa potensi masalah yang akan muncul. Potensi masalah tersebut adalah :
  1. Pengklasifikasian : Jika dilihat dari kondisi mahasiswa 2010 dengan komposisi mahasiswa ekonomi lemah hanya 5% dan tahun 2011 ditergetkan 20% sementara info yang diberikan lebih banyak meng-ekpose angka 55 juta, maka kami memperkirakan angka 20% akan sulit tercapai !! Yang menjadi perhatian adalah bagaimana jika golongan menengah ke atas justru mendaftar sebagai orang yang tidak mampu?Ini perlu di antisipasi agar subsidi tersebut jatuh ke tangan orang yang berhak. Oleh karena itu perlu ada sistem seleksi dan klasifikasi yang baik untuk menangani masalah ini. Sampai saat ini pihak ITB mengakui belum menemukan metoda tersebut. Mereka menerima masukan dari mahasiswa jika memang ada yang mempunyai usulan mengenai sistem ini.
  2. Disisi lain, berdasarkan informasi dari Kasubdit Penjaringan Mahasiswa (16/02/2011),  dari jumlah 17.000 SMA di Indonesia, baru sekitar 500 SMA yang telah mendaftar untuk mengikuti SNMPTN jalur undangan ke ITB. Kita sadari bersama bahwa peminat ujian masuk ITB mayoritas merupakan siswa yang berasal dari daerah perkotaan, terutama dari sekolah-sekolah favorite di kotanya. Berdasarkan pengalaman penulis, tidak banyak siswa daerah yang –bahkan—percaya diri untuk mendaftar. Baik karena masalah kapasitas akademik maupun keuangan.
  3. Sosialisasi : Untuk pengumuman serta pendaftaran mahasiswa baru ini dilakukan secara online. Sementara tidak semua daerah dapat mengakses internet dengan mudah. Oleh karena itu butuh sosialisasi langsung ke sekolah-sekolah terutama yang di daerah. Dan jelaskan kepada mereka bahwa sebenarnya ITB menyediakan beasiswa bagi mereka yang kurang mampu. ITB tetapakan menerima mereka yang terbaik secara akademik, jadi tak  ada cerita orang yang memang memiliki kapasitas intelektual tinggi tidak bisa masuk ITB Karena masalah biaya. Jika pada akhirnya jumlah mahasiswa yang berada pada golongan ekonomi lemah melebihi angka 20%, maka ITB tidak sertamerta menolak sebagian dari mereka dan menerima yang sanggup membayar lebih,  karena dalam kasus ini ITB  akan  mengusahakan penganggaran dana melalui bantuan dan kerjasama dari pihak lain.
  4. Sistem Pengklasifikasian : Yang menjadi perhatian adalah bagaimana jika golongan menengah ke atas justru mendaftar sebagai orang yang tidak mampu? Ini perlu di antisipasi agar subsidi tersebut jatuh ke tangan orang yang berhak. Oleh karena itu perlu ada sistem seleksi dan klasifikasi yang baik untuk menangani masalah ini. Sampai saat ini pihak ITB mengakui belum menemukan metoda tersebut. Mereka menerima masukan dari mahasiswa jika memang ada yang mempunyai usulan mengenai sistem ini.
Berdasarkan beberapa data di atas, maka kami atas nama mahasiswa yang tergabung dalam Keluarga Mahasiswa ITB mengeluarkan PETISI 55, sebagai berikut :
PETISI 55
1. Rektorat memberikan klarifikasi resmi dan transparansi mengenai pertimbangan beban biaya pendidikan di ITB.
Penjelasan : mengacu bahwa klarifikasi resmi terkait rancangan anggaran biaya ITB 2011 yang semestinya bisa kita dapatkan melalui MWA-WM namun dengan perubahan aturan pemerintah MWA-WM tidak bisa mengakses dokumen tersebut. dengan keadaan seperti ini kejelasan keluarnya kebijakan anggaran pendanaan pendidikan 2011 untuk mahasiswa baru angkatan 2011 tidak dapat diakses oleh mahasiswa selain dari klarifikasi resmi dari pihak rektorat. dengan memanfaatkan bargaining yang besar dari mahasiswa olehk arena itu poin tuntutan ini muncul.
2. Rektorat menerbitkan informasi mengenai klasifikasi dan syarat yang harus dipenuhi oleh calon mahasiswa untuk mendapatkan keringanan subsidi pembayaran masuk ITB dengan segera.
Penjelasan : dengan menerbitkan syarat yang jelas dari klasifikasi maka masyarakat dapat mengetahui sejauh mana kemampuan ekonominya dapat memasukan buah hati mereka ke ITB dan tergolong sebagai apa nantinya dalam pengelompokan pembayaran.
3. Rektorat melakukan penerimaan mahasiswa baru berdasarkan prestasi akademik dan mengedepankan pemberitaan mengenai adanya keringanan biaya pendidikan.
Penjelasan : Penerimaan mahasiswa baru harus dilandaskan pada kualitas kemampuan akademis dari calon mahasiswa bukan dari kualitas atau kekuatan finansial dari calon mahasiswa, selain itu dalam pemberitaan ITB harus mengedepankan pemberitaan peringanan biaya guna menghilangkan pembatas secara psikologis bagi kalangan ekonomi menengah ke bawah.
4. Rektorat melakukan konferensi pers untuk menjelaskan tiga poin sebelumnya.
Penjelasan : rektorat harus melakukan kegiatan sosialisasi resmi agar informasi yang disampaikan valid dan terpercaya di masyarakat.
5. Rektorat melakukan forum evaluasi terbuka terkait penerimaan mahasiswa baru ITB 2011.
Penjelasan : petisi poin akhir ini bertujuan untuk mewadahi semua pihak dalam rangka pengawalan prosesi masuknya mahasiswa baru ke ITB serta transparansinya.
Untuk Tuhan, Bangsa, dan Almamater! Merdeka!
Atas nama seluruh Mahasiswa ITB,
Presiden Keluarga Mahasiswa ITB
Herry Dharmawan
NIM: 13606024
kali ini sedikit mengenai penerimaan mahasiswa baru ITB, opik langsung kopas aja dari webnya KM:
http://km.itb.ac.id/site/?p=1070
http://km.itb.ac.id/site/?p=1074


Masihkah ITB untuk semua?

Sejak tanggal 1 Februari lalu, Seleksi Nasional Mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2011 Jalur Undangan telah dimulai. ITB sebagai institut teknologi tentunya mengharapkan agar calon mahasiswa yang diterima merupakan siswa-siswa terbaik dari seluruh Indonesia. Sejak bulan januari lalu, ITB memutuskan untuk menjaring calon mahasiswanya melalui 100% SNMPTN tanpa ujian mandiri. Sekilas kabar ini mungkin terdengar melegakan, namun ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan. Berikut merupakan beberapa catatan penting versi Kajian Strategis
BagaimanaSistemPenerimaanMahasiswaBaru ITB 2011?
Sesuaidengan PP no. 66 Tahun 2010 bahwa penerimaan mahasiswa baru yang dilakukan dengan pola penerimaan secara nasional minimal berjumlah 60%.
Secara umum, sistem SNMPTN ITB tersebut dibagi menjadi dua :
1.      60% SNMPTN Jalur Undangan (Pendaftaran : 1 Februari – 12 Maret 2011)
2.      40% SNMPTN Jalur Tertulis (Pendaftaran : 2 – 24 Mei 2011)
1.      Program SNMPTN JalurUndangan
Merupakan program PMB yang dibukabagiseluruhlulusan SLTA/sederajat dengan tahun ijazah 2011, yang memiliki prestasiterbaik di kelas, di SLTA asalnya. Program ini dilaksanakan secara nasional melalui SLTA asal calon peserta, dengan menggunakan nilai Rapor SLTA atau sederajat, semester 1 s.d. semester 5.
Yang termasuk dalam jalur ini adalah peserta Kemitraan Nusantara ITB (KN-ITB) dan peserta program Beasiswa (Beasiswa OSN, BIUS, BIDIK MISI, Beasiswa Biaya Pendidikan, Beasiswa Ekonomi Lemah, dll.).   Pendaftaran dilakukan ke Panitia Pusat SNMTPN 2011 melalui masing-masing SLTA  asal calon mahasiswa. Calon mahasiswa tidak diperkenankan mendaftarkan diri secara langsung ke Perguruan Tinggi tujuan.
Persyaratan
Ketentuan yang berlaku bagi calon peserta SNMPTN 2011 – Jalur Undangan, adalah sebagai berikut :
  • SNMPTN 2011 –  Jalur Undangan ialah mekanisme seleksi nasional berdasarkan penjaringan prestasi akademik tanpa ujian tertulis/keterampilan.
  • SNMPTN 2011 – Jalur Undangan tidak termasuk jalur penelusuran minat dan bakat.
  • Peserta SNMPTN 2011 – Jalur Undangan adalah SMA/MA/SMK Negeri maupun Swasta.
  • SLTA peserta SNMPTN 2011 – Jalur Undangan harus terakreditasi A, B, C oleh BAN-SM dan/atau terdaftar pada database SNMPTN 2010.
  • SLTA peserta SNMPTN 2011 – Jalur Undangan mengirimkan siswa pelamar terbaiknya untuk diseleksi menjadi calon mahasiswa baru di perguruan tinggi negeri yang diminati.
  • Persyaratan Umum Peserta SNMPTN 2011 – Jalur Undangan :
    • Warga Negara Indonesia
    • Siswa Pelamar merupakan siswa yang duduk di kelas 12 dengan prestasi akademik konsisten.
    • Lulus UjianSatuanPendidikandanUjianNasional SLTA atau yang setaratahun 2011
    • KetentuanPeringkat Siswa Pelamar di Kelas, di SLTA asal yang diperkenankan melamar ke SNMPTN 2011 – Jalur Undangan :
      • Akreditasi A (Aksel) : 100% terbaik di kelas
      • Akreditasi A (RSBI/Unggulan) : 75% terbaik di kelas
      • Akreditasi A (reguler) : 50% terbaik di kelas
      • Akreditasi B (reguler) : 25% terbaik di kelas
      • Akreditasi C (reguler) : 10% terbaik di kelas
    • Memiliki prestasi akademik konsisten di SLTA asalnya, dari semester 1 s.d. 5 sesuai dengan ketentuan di atas, dibuktikan dengan rekomendasi dari Kepala Sekolah
    • Bersedia melunasi biaya pendaftaran SNMPTN 2011 – Jalur Undangan, sebesar Rp. 175.000,-
2.      Program SNMPTN 2011 Jalur UjianTulis
Merupakan system ujian saringan masuk perguruan tinggi negeri yang dilaksanakan secara nasional, oleh sebuah panitia terpusat di Jakarta, yang ditunjuk oleh Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI).
Ujiantulis yang diselenggarakan dalam rangka  Seleksi Nasional Perguruan Tinggi Negeri akan dilaksanakan secara serentak dan terpadu pada jam dan hari yang sama, dengan soal yang sama di berbagai PTN di Indonesia.
Mulai tahun 2011,  Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) serta Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) diikutsertakan ke dalam Jalur Ujian Tulis ini. Keduanya dapat diambil melalui jalur ujian IPS, sedangkan fakultas/sekolahlainnya  dapat dipilih melalui jalur ujian IPA. Khusus bagi para peserta SNMPTN yang memilih FSRD, diharuskan untuk mengikuti ujian keterampilan.
BiayaPendidikanUntukkeduaJalur
1)     Biaya pendidikan terdiri atas komponen Biaya Pendidikan yang dibayar di Muka (BPM) yang di bayar sekali dan komponen Biaya Pendidikan Pokok (BPP) yang dibayar setiap awal semester.
2)     Untuk tahun 2011 BPM ditetapkan Rp 55.000.000,- per mahasiswa dan BPP Rp 5.000.000,- per mahasiswa per semester. Khusus untuk calon mahasiswa yang diterima di SBM, BPM ditetapkan Rp 80.000.000,- dan biaya SKS sebesar Rp 750.000 per SKS.
3)     Orang tua yang memerlukan bantuan untuk pembiayaan putra/putrinya yang diterima di fakultas/sekolah bukan SBM, dapat mengajukan permohonan subsidi untuk pembayaran BPM yang akan dipertimbangkan sesuai dengan bukti-bukti yang menunjukkan kemampuan ekonomi orang tua. Besarnya subsidi akan bervariasi: 25%, 50%, atau 75%.
4)     Subsidi 100% baik BPM maupun BPP diberikan kepada mahasiswa baru yang berasal dari keluarga golongan ekonomi lemah dengan penghasilan keluarga yang tidak memungkinkan membiayai studi anggota keluarganya di perguruan tinggi. Sesuai dengan ketentuan pemerintah, ITB mempersiapkan subsidi 100% ini bagi minimum 20% mahasiswa yang akan diterima, yakni untuk lebih dari 600 mahasiswa baru, termasuk untuk mahasiswa baru SBM.
5)     Di samping BPM dan BPP, calon mahasiswa yang diterima melalui SNMPTN 2011 – Jalur Ujian Tulis, akan diwajibkan untuk membayar biaya pendaftaran Mahasiswa Baru yang besarnya akan ditentukan kemudian. Namun bagi calon mahasiswa peserta SNMPTN 2011 – Jalur Ujian Tulis yang menerima subsidi BPM dan BPP sebesar 100%, akan dibebaskan dari kewajiban membayar biaya Pendaftaran Mahasiswa Baru.
Beberapapenjelasandaripihakrektoratterkait PMB 2011
Menurut PP 66 Thn 2010 dan peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI no. 34/2010 :
  1. Minimal 60% Mahasiswa berasal dari Seleksi Nasional (SNMPTN)
  2. 20% Mahasiswa baru harus berasal dari ekonomi lemah
  3. Seleksi Mandiri dilakukan setelah SNMPTN (atau bisa jadi setelah pengumuman SNMPTN)
Karena poin 3 ini maka ITB memutuskan untuk tidak mengadakan USM, karena ITB khawatir Mahasiswa yang terjaring setelah seleksi SNMPTN kualitasnya lebih rendah, dan waktu yang tersedia dari setelah SNMPTN sampai tahun ajaran baru tidak mencukupi untuk diadakannya USM.
Seleksi secara nasional dilakukan oleh panitia SNMPTN terpusat. Terdapat dua jalur :
  1. Jalur undangan 60% : seleksi nilai rapot (Mirip PMDK), Kemitraan, Bidik MISI, BIUS, Minat, dll.
(1 Feb-12Mar)
  1. Jalur Tertulis 40% : seleksi tertulis seperti biasa
(31 Mei-1Jun)
Persentase di atas merupakan proporsi tiap fakultas jadi bukan total mahasiswa kecuali FSRD (20:80).
Untuk  tahun ini, jumlah mahasiswa yang akan diterima sekitar 3100. Untuk persyaratan minimal 20% berasal dari golongan ekonomi lemah, berarti ITB harus menyediakan subsidi penuh bagi kepada minimal 640 orang. Dari data ada di ITB sekarang,  jumlah mahasiswa yang ekonomi lemah sekitar 5%. Sekitar 60% ekonomi menengah, dan sisanya ekonomi tinggi.
Biaya pendidikan
Cost yang dikeluarkan ITB untuk 1 orang mahasiswa adalah 108 juta selama 4 tahun.  Biaya yang harus dikeluarkan seorang mahasiswa (tidak subsidi) adalah 95 juta. (BPPM  55 Juta, Semester 5 Juta).
Gambaran dari ITB
-          40% Bayar Full = bisa berasal dari jalur undangan ataupun tertulis
-           40% Subsidi = antara 25,50, sampai 75%.
-          20% Subsidi Full = syarat minimal dari pemerintah.
Sampai saat ini masih belum jelas metoda untuk menseleksi ataupun mengklasifiksi orang-orang berdasarkan kondisi ekonominya.
Untuk memenuhi syarat 20% ITB berusaha untuk memperoleh bantuan dana dari beberapa sumber:
-          Pemerintah = hanya 20-30% dari biaya total operasional
-          Kerja sama /bantuanpihak lain= 30-45 %
-          Biaya orang tua mahasiswa= 30 %
Pada intinya keputusan mengenai sistem PMB yang sekarang tidak dapat diubah lagi, karena sudah terpublikasi resmi. Pihak ITB juga sudah melakukan sosialisasi kepada para kepala sekolah di Bandung dan ke media.
ITB tetap menjalankan prinsip nya untuk menerima mahasiswa terbaik secara Akademik. Artinya diterima atau tidaknya calon mahasiswa tidak tergantung pada besarnya biaya yang mampu di bayar.Jika dari 3200 mahasiswa yang terbaik secara akademik itu lebih dari 20% nya merupakan golongan ekonomi lemah, maka ITB akan melakukan revisi RKA (bukan “tidak meluluskan” sebagian dari mereka).
Yang Perlu kita lakukan
Banyak dari masyarakat kita yang tidak mengetahui akan adanya sistem yang baru ini. Oleh karena itu tugas kita adalah membantu menyebarluaskan informasi ini sehingga seluruh sekolah terutama di daerah-daerah mengetahui akan kejelasan informasi ini. Ada juga yang sebagian opini masyarakat yang mengatakan bahwa kalau mau masuk ITB harus bayar 55 juta. Padahal ITB sendiri menyediakan subsidi-subsidi bagi mereka yang kurang mampu .Jika kita melihat form pendaftaran maka akan terlihat isian yang menyatakan kesanggupan pembayaran. Sampai saat ini komite ITB membutuhkan usulan dari mahasiswa tentang bagaimana agar orang-orang yang menengah keatas membayar 55 juta sesuai dengan kemampuaannya, dan bagaimana agar golongan menengah kebawah tahu bahwa ada subsidi bagi mereka sehingga mereka tidak perlu takut lagi. Oleh karena itu ada dua poin  penting yang perlu kita lakukan :
  1. Sosialisasi
Untuk pengumuman serta pendaftaran mahasiswa baru ini dilakukan secara online. Sementara tidak semua daerah dapat mengakses internet dengan mudah. Oleh karena itu butuh sosialisasi langsung ke sekolah-sekolah terutama yang di daerah. Dan jelaskan kepada mereka bahwa sebenarnya ITB menyediakan beasiswa bagi mereka yang kurang mampu. ITB tetapakan menerima mereka yang terbaik secara akademik, jadi tak  ada cerita orang yang memang memiliki kapasitas intelektual tinggi tidak bisa masuk ITB Karena masalah biaya. Jika pada akhirnya jumlah mahasiswa yang berada pada golongan ekonomi lemah melebihi angka 20%, maka ITB tidak sertamerta menolak sebagian dari mereka dan menerima yang sanggup membayar lebih,  karena dalam kasus ini ITB  akan  mengusahakan penganggaran dana melalui bantuan dan kerjasama dari pihak lain.
2. Sistem Pengklasifikasian
Yang menjadi perhatian adalah bagaimana jika golongan menengah ke atas justru mendaftar sebagai orang yang tidak mampu?Ini perlu di antisipasi agar subsidi tersebut jatuh ke tangan orang yang berhak. Oleh karena itu perlu ada sistem seleksi dan klasifikasi yang baik untuk menangani masalah ini. Sampai saat ini pihak ITB mengakui belum menemukan metoda tersebut. Mereka menerima masukan dari mahasiswa jika memang ada yang mempunyai usulan mengenai sistem ini.
KAJIAN SATU ITB
Kementerian Kajian Strategis
Kabinet KM-ITB 2010/2011

Perkenalan

Hmm, akhirnya mulai ngeblog saja setelah dibakar-bakarin ama seseorang (ini berarti kau, Arin), soalnya katanya dia kagum ama aku yang kayanya udha selangkah maju dalam info farmasi (padahal cumja baca2 berita doang), jadi ya paling isi blog ini cuma posting dari internet, atao terjemahannya

 
 masih bingung ini bakal diisi apa, tapi pasti campur aduk, tanpa panjang2 lagi saya perkenalkan diri saya
 Taufik Abidin, lahir 28 januari 1989, di bandung, Jawa Barat NKRI, dari pasangan Bapak Ahmad Zainal Abidin dan Ibu Kuriah Abidin, anak sulung dari 6 Bersudara, 4 adik lelaki, 1 adik perempuan, kini lagi ngambil apoteker di ITB