Nemu dari blognya The Angriest Pharmacist, tapi ditambahin dikit, tentangs ejarah pengobatan
THE HISTORY OF MEDICINE
2000 B.C. - "Here, eat this root."
1000 B.C. - "That root is heathen, say this prayer."
20 A.D. - "That prayer is good, but you have to pray in my name me to get through to Dad."
1850 A.D. - "That prayer is a superstitious chant, drink this potion."
1940 A.D. - "That potion is merely snake oil, swallow this pill."
1970 A.D. - "That pill is ineffective, take this antibiotic four times a day."
1980 A.D. - "Bacteria aren't the problem. Viruses are enemy number 1! Get this vaccination, but you still better take our pills too!"
1990 A.D. - "Taking pills four times a day? That's ARCHAIC! Take this tablet once-a-day."
1999 A.D. - "That once-a-day tablet is cost prohibitive. Take this cheaper generic. It's the same thing."
1999 A.D. - "Their generic once-a-day tablet isn't good enough anymore. Our 'XR' tablet is now the standard of care. And you only have to take it once-a-day!!!"
2000 A.D. "This XR antibiotic kills all the bacteria in your stomach. Take this bacteria capsule four times a day."
2000 A.D. - "Those vaccines are still working, but our data shows they definitely cause autism and some other nasty shit."
2001 A.D. "No, they don't. The data never showed that. Shit happens."
2003 A.D. - "Bacteria are now resistant to this once-a-day antibiotic. We're probably fucked."
2011 A.D. - "Oh yeah, we have immune systems. That's why the vaccines work. Let's just drink the damn tap water and shut the fuck up."
20xx A.D. – “Hmm, making new drugs are too costly. Drugs also makes people live longer when they should’ve died instead, eating funds that should’ve gone to other sectors.
Selasa, 16 Agustus 2011
Kamis, 11 Agustus 2011
Tes Kesehatan buat ke NTUST Taiwan
Akhirnya sampai juga ke kamis 11 Agustus, tapi ngapain apa aja sih selama 1 minggu itu?
Ya...opik sebenarnya kurang persiapan. Karena tahu klo sidang kompre kaya gini bakal loncat kemana2, akhirnya opik cuma sekerdar baca-lewat semua materi yang ada, juga nyari2 isu2 yang lagi panas nb baru tentang farmasi di internet. dan baru sangat efektif di 1 hari terakhir menjelang Ujian Lisan.
Kenapa? karena opik waktu itu lagi mikirin tes kesehatan untuk ke NTUST Taiwan. Bingung ke Jakarta trus ke tempat tes kes-nya mesti gimana. Mikir naik bis atau travel, harus naik apa saja dan sederet masalah lainnya...termasuk biaya.
Ya udah ke Jakarta naik Baraya Travel. 50 ribu, naik dari Dipati ukur. Rencananya sih ke Tebet, tapi ga ada yang jam 6.15,adanya jam 8. jadi aja naik yang ke ciputat. Pkiran opik waktu itu adalah, sisa 1.45 jam yang ada bisa dipakai buat nyari2, apalagi klo lebih pagi diharapkan kurang macet. Eh, ternyata Ciputat itu mau paling selatan dan jauh pas liat di Peta.
Tambahan kesialan lagi opik baru ngobrol2 n cerita2 soal opik mau ke Tebet setelah travelnya berangkat dari tempat peristirahatan di jalan tol, padahal ada travel yang mau ke Tebet. Sopirnya sampai bilang "napa ga dari tadi? kan bisa dititip ke yang mau ke Tebet." Ya sudahlah, dari penumpang yang lain dapet info soal bis dan angkutan apa aja yang kira2 bisa dipakai. (kan tempat tes kesehatan banyak, ada di dekat kampung Melayu, basuki rahmar, Dewi sartika, dll).
Akhirnya turun dekat pintu keluar tol, ga sampai ke ciputat, terus naik Bis 72 (ongkos 2000) ke Blok M. Eh, di Bisnya malah dibilangin salah, soalnya dari Lebak bulus kan ada yang langsung ke Kampung Melayu (opik juga inget ada Busway dan angkutan lainnya yang bisa). Tapi karena udah jauh dan bakal buang2 ongkos klo balik, ya udah jalanin aja, apalagi katanya bisa naik bis ke Tebet dari Blok M, 612 dilanjutkan 616 (klo ga salah). Eh, ternyata itu bis lewat RS Pertamina, yang merupakan salah satu tempat tes kesehatan, ya udah turun (beruntung ya?)
dan sigkat cerita tes kesehatanlah sama disuntuik MMR. Nungguin transfer duit buat bayar, ya jam 2-an, biayanya 650.00an, eh, pas zuhur ada dokter Jose Rizal dari Mer-C yang nyeritain pendirian RS Indonesia di Gaza. ya duduk2 ajalah. Trus meriksa saku ama dompet, ada ga ya uang segitu...eh cukuplah, meski ga ada ongkos lagi, tapi jam 2 transfer, jadi tenanglah, bayar. Pulang
Pulang rencananya mau jalan kaki ke Lebak bulus buat naik bis, tapi ternyata ada Baraya travel ada di Fatmawati, wah lebih dekat, kesana aja deh, eh, selidik pun selidik, ada yantg ;ebih dekat lagi, yaitu pondok Indah, ya udah kesana.
Di Pondok Indah keberangkatannya 15.45, jadi nunggu deh. lalu berangkat dan sampai ke Surapati jam 6.30. pulang dah
Ya...opik sebenarnya kurang persiapan. Karena tahu klo sidang kompre kaya gini bakal loncat kemana2, akhirnya opik cuma sekerdar baca-lewat semua materi yang ada, juga nyari2 isu2 yang lagi panas nb baru tentang farmasi di internet. dan baru sangat efektif di 1 hari terakhir menjelang Ujian Lisan.
Kenapa? karena opik waktu itu lagi mikirin tes kesehatan untuk ke NTUST Taiwan. Bingung ke Jakarta trus ke tempat tes kes-nya mesti gimana. Mikir naik bis atau travel, harus naik apa saja dan sederet masalah lainnya...termasuk biaya.
Ya udah ke Jakarta naik Baraya Travel. 50 ribu, naik dari Dipati ukur. Rencananya sih ke Tebet, tapi ga ada yang jam 6.15,adanya jam 8. jadi aja naik yang ke ciputat. Pkiran opik waktu itu adalah, sisa 1.45 jam yang ada bisa dipakai buat nyari2, apalagi klo lebih pagi diharapkan kurang macet. Eh, ternyata Ciputat itu mau paling selatan dan jauh pas liat di Peta.
Tambahan kesialan lagi opik baru ngobrol2 n cerita2 soal opik mau ke Tebet setelah travelnya berangkat dari tempat peristirahatan di jalan tol, padahal ada travel yang mau ke Tebet. Sopirnya sampai bilang "napa ga dari tadi? kan bisa dititip ke yang mau ke Tebet." Ya sudahlah, dari penumpang yang lain dapet info soal bis dan angkutan apa aja yang kira2 bisa dipakai. (kan tempat tes kesehatan banyak, ada di dekat kampung Melayu, basuki rahmar, Dewi sartika, dll).
Akhirnya turun dekat pintu keluar tol, ga sampai ke ciputat, terus naik Bis 72 (ongkos 2000) ke Blok M. Eh, di Bisnya malah dibilangin salah, soalnya dari Lebak bulus kan ada yang langsung ke Kampung Melayu (opik juga inget ada Busway dan angkutan lainnya yang bisa). Tapi karena udah jauh dan bakal buang2 ongkos klo balik, ya udah jalanin aja, apalagi katanya bisa naik bis ke Tebet dari Blok M, 612 dilanjutkan 616 (klo ga salah). Eh, ternyata itu bis lewat RS Pertamina, yang merupakan salah satu tempat tes kesehatan, ya udah turun (beruntung ya?)
dan sigkat cerita tes kesehatanlah sama disuntuik MMR. Nungguin transfer duit buat bayar, ya jam 2-an, biayanya 650.00an, eh, pas zuhur ada dokter Jose Rizal dari Mer-C yang nyeritain pendirian RS Indonesia di Gaza. ya duduk2 ajalah. Trus meriksa saku ama dompet, ada ga ya uang segitu...eh cukuplah, meski ga ada ongkos lagi, tapi jam 2 transfer, jadi tenanglah, bayar. Pulang
Pulang rencananya mau jalan kaki ke Lebak bulus buat naik bis, tapi ternyata ada Baraya travel ada di Fatmawati, wah lebih dekat, kesana aja deh, eh, selidik pun selidik, ada yantg ;ebih dekat lagi, yaitu pondok Indah, ya udah kesana.
Di Pondok Indah keberangkatannya 15.45, jadi nunggu deh. lalu berangkat dan sampai ke Surapati jam 6.30. pulang dah
Jumat, 05 Agustus 2011
MTM (Medication Theraphy Management) dari sudut pandang Farmasis
dari blog seorang farmasi di AS sana (negara bagian Ohio tepatnya)
http://eric-rph.blogspot.com/2011/03/insights-from-fellow-pharmacist.html
opik terjemahin nih, dan persingkat , biar kita ga dibutakan dengan janji2 palsu dan idealita, tapi kita juga harus melihat realita, jangan cuma ikut2an
Saya setuju bahwa Sekolah-sekolah farmasi yang memulainya tapi mereka memulainya tepat saat mereka bermetamorfosa menjadi sekolah pelatihan MTM tanpa mencari apakah MTM itu model praktek kerja seorang farmasis yang dapat diterapkan pada profesi.
Mereka begitu haus akan sebuah model untuk praktek profesi, jadi mereka menerima model bikinan Hepler dan Strand (orang2 yang mula2 mengajukan MTM) tanpa melihat dan meriksa terlebih dahulu apakah model ini bisa diterapkan di lapangan.
Hepler dan Strand membawa "logika farmasi" pada awal 1990-an pada keputusan terakhirnya. Secara kasar, sejak itulah "karena farmasis punya pendidikan obat yang paling resmi, mereka seharusnya menangani terapi obat". Pengumuman soal "Pharmaceutical Care" yang menyebutkan farmasis meti menerima peran ini ada di halaman pertama, tapi di halaman ketiga, tertulis bahwa apa yang mereka usulkan dan percayai menabrak praktek profesi kesehatan lainnya.
Masalahnya, para dokter sudah menangani terapi dan sebagaimana yang telah kita lihat, merekalah yang memutuskan siapa yang ikut campur urusan mereka dan siapa yang tidak. Asisten dokter dan perawat (dengan sedikit perang) melakukan lebih banyak manajemen terapi daripada farmasis. Apa yang kita sekarang sebut MTM adalah aberasi yang telah dimodif agar informasi dapat didapatkan farmasis. Kita tak bisa "menangani terapi" tanpa informasi lab dan pemeriksaan -- medical chart.
Sebuah artikel baru dari 'Chain Store News' menceritakan farmasis K-Mart yang "menyebarkan Injil" MTM. Salah yang teknisi (Asisten apotekernya kalau disini)-nya harus lakukan adalah menelpon dokter untuk mencari hasil lan sebelum dia bertemu pasien untuk mendiskusikan terapi mereka.
Lalu mengapa lulusan sekarang pesimis dan tak antusias. Mungkin mereka melihat kenyataan yang ada. Kau pernah menulis soal med rep yang menghilang, itu karena mereka menghabiskan waktu pada yang tepat - sang penulis resep. Baik perusahaan farmasi maupun dokter takkan memberikan manajemen taerapi pada farmasis.
Perusahaan farmasi mendukung PBM dan order pos mereka. Aku tahu kalau kitabisa lihat para farmasis bersama-sama dan bersatu. Tapi lihat majalah "Drug Topics" seorang farmasis RS bilang ke David Stanley bahwa dia tak bisa mengeluh tentang farmasi retail dan fakta kau harus mengisi 1000 resep sehari adalah karena kau mata duitan. Ini adalah tanda kurangnya pengertian, empati dan kesatuan.
Bahkan Komite nasional pun tak menghargai kita. Dokter berhak melihat siapa yang dapat narkotik, dari siapa dan dari mana, sedangkan farmasis tidak. kita dihalangi dari info yang berguna, yang bisa membuat kita lebih aktif dan berkontribusi.
Tidak hanya soal pelacakan obat yang rawan ketergantungan, informasi kesehatan saja tak tersedia untuk kita, jadi MTM nyata takkan ada. Jika kita mendapatkan sesuatu, itu tak cukup bagi kita untuk memutuskan
http://eric-rph.blogspot.com/2011/03/insights-from-fellow-pharmacist.html
opik terjemahin nih, dan persingkat , biar kita ga dibutakan dengan janji2 palsu dan idealita, tapi kita juga harus melihat realita, jangan cuma ikut2an
Saya setuju bahwa Sekolah-sekolah farmasi yang memulainya tapi mereka memulainya tepat saat mereka bermetamorfosa menjadi sekolah pelatihan MTM tanpa mencari apakah MTM itu model praktek kerja seorang farmasis yang dapat diterapkan pada profesi.
Mereka begitu haus akan sebuah model untuk praktek profesi, jadi mereka menerima model bikinan Hepler dan Strand (orang2 yang mula2 mengajukan MTM) tanpa melihat dan meriksa terlebih dahulu apakah model ini bisa diterapkan di lapangan.
Hepler dan Strand membawa "logika farmasi" pada awal 1990-an pada keputusan terakhirnya. Secara kasar, sejak itulah "karena farmasis punya pendidikan obat yang paling resmi, mereka seharusnya menangani terapi obat". Pengumuman soal "Pharmaceutical Care" yang menyebutkan farmasis meti menerima peran ini ada di halaman pertama, tapi di halaman ketiga, tertulis bahwa apa yang mereka usulkan dan percayai menabrak praktek profesi kesehatan lainnya.
Masalahnya, para dokter sudah menangani terapi dan sebagaimana yang telah kita lihat, merekalah yang memutuskan siapa yang ikut campur urusan mereka dan siapa yang tidak. Asisten dokter dan perawat (dengan sedikit perang) melakukan lebih banyak manajemen terapi daripada farmasis. Apa yang kita sekarang sebut MTM adalah aberasi yang telah dimodif agar informasi dapat didapatkan farmasis. Kita tak bisa "menangani terapi" tanpa informasi lab dan pemeriksaan -- medical chart.
Sebuah artikel baru dari 'Chain Store News' menceritakan farmasis K-Mart yang "menyebarkan Injil" MTM. Salah yang teknisi (Asisten apotekernya kalau disini)-nya harus lakukan adalah menelpon dokter untuk mencari hasil lan sebelum dia bertemu pasien untuk mendiskusikan terapi mereka.
Lalu mengapa lulusan sekarang pesimis dan tak antusias. Mungkin mereka melihat kenyataan yang ada. Kau pernah menulis soal med rep yang menghilang, itu karena mereka menghabiskan waktu pada yang tepat - sang penulis resep. Baik perusahaan farmasi maupun dokter takkan memberikan manajemen taerapi pada farmasis.
Perusahaan farmasi mendukung PBM dan order pos mereka. Aku tahu kalau kitabisa lihat para farmasis bersama-sama dan bersatu. Tapi lihat majalah "Drug Topics" seorang farmasis RS bilang ke David Stanley bahwa dia tak bisa mengeluh tentang farmasi retail dan fakta kau harus mengisi 1000 resep sehari adalah karena kau mata duitan. Ini adalah tanda kurangnya pengertian, empati dan kesatuan.
Bahkan Komite nasional pun tak menghargai kita. Dokter berhak melihat siapa yang dapat narkotik, dari siapa dan dari mana, sedangkan farmasis tidak. kita dihalangi dari info yang berguna, yang bisa membuat kita lebih aktif dan berkontribusi.
Tidak hanya soal pelacakan obat yang rawan ketergantungan, informasi kesehatan saja tak tersedia untuk kita, jadi MTM nyata takkan ada. Jika kita mendapatkan sesuatu, itu tak cukup bagi kita untuk memutuskan
Ujian Apoteker Part 2
pertama, opik menahan air selama periode pertama ujian pustaka hari satu sampai istirahat, padahal udah kebelakang sebelumnya. Aneh kan, udah persiapan sebelumnya, tetap aja ga bisa nahan keinginan untuk buang air.
Kedua, opik ga nemu nyari2 JSS bagian bab 2, padahal sebenarnya ada, jadi aja make contoh dari simulasi Eperison.
Ketiga, harus diakui, mau ga mau puasa ramadhan itu sangat berpengaruh. entah itu lapar, lemas, malamnya juga harus bangun dini hari buat sahur dll, itu bikin kita ga 100% biasanya
Jadi aja banyak terhambat bukan gara2 soalnya tapi dari diri sendiri yang ....entah kenapa hambatan itu bisa ada, padahal persiapan seharusnya bisa menghadangnya. Hari 1, bab 1 beres, bab 2 bolong2 dikit
Malamnya, opik coba baca2 jurnal2 metoklopramida yang kemarin2, eh, ada 2 yang berupa injeksi dan 2-2nya lulus, coba baca2, emang kaya gimana...dan coba bikin salinan sendiri dari situ, ngemabnginnya dimana, mana yang dipotong karena ga perlu, mana yang perlu ditambah. Akhirnya bagian bab 3-4 mulai dibikin rangkanya di rumah, potong mana yang ga logis. Untung ingat ampul itu dosis tunggal, jadi ga perlu pengawet, terus ga perlu dapar, cukup adjust aja karena rentang pH stabilita luas. bagian analisis dan wadah IO cuma liat aja, toh nanti juga cuma nyalin dari pustaka, entah itu FI atau florey, dll.
Malamnya emang susah tidur, tapi maksa dan bisa. Serahkan sajalah semuanya pada Tuhan setelah kita juga coba berusaha.
Hari kedua dimulai
Hmm, coba beresin bab 2 sebisanya dengan data yang ada. Membingungkan lho bikin toksisitas dan mekanisme kerjanya. Batas oralnya kecil, tapi klo lewat injeksi, bisa lebih, soal toksisitas, banyak kasus overdosis dilaporkan, tapi efek sampingnya kata mereka bisa keterima dan bisa sembuh dalam 1-2 hari, apa ga gila tuh? Mekanisme kerja ok dopamin, tapi yang serotoninnya bikin bingung, masukin apa kagak. Selebihnya cuma nyalin pustaka (sambils edikit motong), JSS, dan apa yang udah ditulis di rumah.
Tapi ternyata ada yang kurang. 1. prosedur penetapan kadar dan identifikasi pada bab 4,. liat JSS pada mengacu ke bab... padahal di situ ga ada!!! teman2 lain pun menyadarinya, semoga jadi pelajaran buat angkatan berikutnya 2. Satuan celsius suka ga ketulis, siapa tahu dipermasalahin 3. khusus opik, kadar air ga ada di JSS, padahal jadi persyaratan di monografi, jadi teman2 pada teliti ya nanti, siapa tahu ada di monografi tapi ga ada di JSS.
Sudah coba mengerjakan sebisanya, Tapi ga keburu....wadah dan IO juga pustaka cuma bisa sekenanya saja, hal;aman ama daftar isi juga begitu, sial benar, tapi ya sudahlah, mencoba bersabar. Nanti kita lihat di kamis 12 Agustus 2011.
Kedua, opik ga nemu nyari2 JSS bagian bab 2, padahal sebenarnya ada, jadi aja make contoh dari simulasi Eperison.
Ketiga, harus diakui, mau ga mau puasa ramadhan itu sangat berpengaruh. entah itu lapar, lemas, malamnya juga harus bangun dini hari buat sahur dll, itu bikin kita ga 100% biasanya
Jadi aja banyak terhambat bukan gara2 soalnya tapi dari diri sendiri yang ....entah kenapa hambatan itu bisa ada, padahal persiapan seharusnya bisa menghadangnya. Hari 1, bab 1 beres, bab 2 bolong2 dikit
Malamnya, opik coba baca2 jurnal2 metoklopramida yang kemarin2, eh, ada 2 yang berupa injeksi dan 2-2nya lulus, coba baca2, emang kaya gimana...dan coba bikin salinan sendiri dari situ, ngemabnginnya dimana, mana yang dipotong karena ga perlu, mana yang perlu ditambah. Akhirnya bagian bab 3-4 mulai dibikin rangkanya di rumah, potong mana yang ga logis. Untung ingat ampul itu dosis tunggal, jadi ga perlu pengawet, terus ga perlu dapar, cukup adjust aja karena rentang pH stabilita luas. bagian analisis dan wadah IO cuma liat aja, toh nanti juga cuma nyalin dari pustaka, entah itu FI atau florey, dll.
Malamnya emang susah tidur, tapi maksa dan bisa. Serahkan sajalah semuanya pada Tuhan setelah kita juga coba berusaha.
Hari kedua dimulai
Hmm, coba beresin bab 2 sebisanya dengan data yang ada. Membingungkan lho bikin toksisitas dan mekanisme kerjanya. Batas oralnya kecil, tapi klo lewat injeksi, bisa lebih, soal toksisitas, banyak kasus overdosis dilaporkan, tapi efek sampingnya kata mereka bisa keterima dan bisa sembuh dalam 1-2 hari, apa ga gila tuh? Mekanisme kerja ok dopamin, tapi yang serotoninnya bikin bingung, masukin apa kagak. Selebihnya cuma nyalin pustaka (sambils edikit motong), JSS, dan apa yang udah ditulis di rumah.
Tapi ternyata ada yang kurang. 1. prosedur penetapan kadar dan identifikasi pada bab 4,. liat JSS pada mengacu ke bab... padahal di situ ga ada!!! teman2 lain pun menyadarinya, semoga jadi pelajaran buat angkatan berikutnya 2. Satuan celsius suka ga ketulis, siapa tahu dipermasalahin 3. khusus opik, kadar air ga ada di JSS, padahal jadi persyaratan di monografi, jadi teman2 pada teliti ya nanti, siapa tahu ada di monografi tapi ga ada di JSS.
Sudah coba mengerjakan sebisanya, Tapi ga keburu....wadah dan IO juga pustaka cuma bisa sekenanya saja, hal;aman ama daftar isi juga begitu, sial benar, tapi ya sudahlah, mencoba bersabar. Nanti kita lihat di kamis 12 Agustus 2011.
Kamis, 04 Agustus 2011
Ujian Apoteker Part 1
Yeah, setelah Pendidikan Profesi Apoteker, apalagi yang lebih menegangkan daripada ujian apoteker? Ujian yang jatahnya cuma 1 SKS tapi menentukan apakah SKS lainnya berharga atau tidak, karena dengan 1 SKS itu kita diukur layak jadi apoteker atau tidak. Padahal, dari bebannya mungkin harus disamain dengan KP kali ya? paling nggak 4 SKS.
Salah satu hal yang bikin tegang adalah perubahan sistem ujian. Agak heran sih sebenarnya, kini, urutannya adalah pustaka-komprehensif-praktek, padahal dulu, pustaka-praktek-komprehensif, dan ujian pustaka-komprehensif menyatu, artinya kalaupun salah di pustaka, masih ada komprehensif dimana kita bisa membela diri.
Hal lain yang juga berpengaruh adalah pemisahan PPM (produksi dan pengawasan mutu) dengan PF (Pelayanan Farmasi). Ini baru pertama kalinya oleh pihak ITB, dan ujian bagi PF juga tergolong pertama dilakukan ITB. KLemungkinan hal lain yang cukup berpengaruh adalah puasa. Kita ujian apoteker di bulan puasa, apa ga gila apa? Jadi ujian ini bikin pusing, bukan hanya peserta, tapi juga penguji.
OK, mul;ai dari persiapan. Sudah tahu ada tutorialnya, sudah dikasih tahu bahwa sebaiknya bersiap-siap dari jauh-jauh hari, tapi apa mau di kata, tubuh jauh dari Rumah, meski pikiran masih disana (Muikirin ujian dan homesick).
Pangkalnya dari semester 1 (Kliatran banget kan klo persiapan mesti dari awal2 sekali?), opik telat daftar buat KP di Industri, padahal KP di Industri adalah KP dimana kesempatan belajar untuk ujian apoteker menipis, apalagi klo dapet yang di luar Bandung (Kebetulan sekali dapat yang di luar Bandung,).
Jadilah KP Industri di Kalbe CIkarang, yang memang kesempatan untuk belajar ujian apoteker sedikit, ga ada persiapan juga sih, bahannya dalam softkopi, laptop ga ada, laptop teman pada dipakai semua (ga tahu klo di fotokopian sunken ada kopiannya waktu itu). dan jam-jam sesudah pulang dari Kalbe cuma diisi tidur dan ngobrol, lampu ga terang, jadi makin malas buat baca,jadinya kesal sendiri, padahal sudah tahu ujian di ambang mata tapi ga bisa ngerjain apa-apa. Memang sih pulang ke rumah, tapi bacanuya cuma bisa sedikit dan godaan untuk melepas apa yang tertahan selama di Cikarang gede juga (ya main, makan, dan...kegatalan disuruh orang tua).
Yosh, masa KP lewat, ujian 11 hari lagi, ngurusin sedikit logistik, dan coba simulasi ujian pustaka. yah, ternyata seminggu baru selesai, itupun analisisnya ga lengkap dikerjain, cuma sepotong, mana pustakanya amburadul juga. memang sih pakai soal yang agak susah, yaitu tablket Eperison, karena data pustakanya dikit (yang susah dulu lah, kan klo dapat yang gampang jadi sip). Sempat mau ngerjain injeksi ranitidin HCl tapi ga keburu, cuma sampai bab 1.
Salah satu hal yang gawat adalah buku pustaka, memang secara elektronik cukup, tapi yang hardkopi masa cuma FI IV + suplemen aja. Gawatnya, bibi opik yang opik sudah kontak dari jauh-jauh hari ga bisa dihubungi, entah kenapa. Sudah dicoba menghubungi kerabat yang lain yang kemungkinan tahu nomornya, tapi nomornya sama, ga berubah, dan dicoba lagi berulangkali juga tak ada hasil. Akhirnya coba ke kang Irul(kakak kelas) ama Bu Rani(tetangga sebelah), lumayan dapat bukunya (terutama Pharmaceutical Codex dan Drug info handbook, dua buku itu sakti banget). tahu kit ujian ternyata ada di fotokopian, langsung deh borong.
OK, persiapan ada, meski bisa dibilang kurang. dan akhirnya melangkah ke ujian tahap pertama. soal dapat apa ya? ternyata eh ternyata, dapat metoklopramida HCl injeksi 10 ampul. kok perasaan pernah dengar? rupa-rupanya ini pernah dikerjain pas pratikum likuid semsol bagian steril, pertama lagi. soal 53, lembar jawaban 79. OK, cukup lancar sih sebenarnya pustaka dll, soalnya datanya lengkap, jadi tinggal nulis aja. Tapi ternyata ada hambatan tak terduga dan salah antisipasi, yaitu...
Salah satu hal yang bikin tegang adalah perubahan sistem ujian. Agak heran sih sebenarnya, kini, urutannya adalah pustaka-komprehensif-praktek, padahal dulu, pustaka-praktek-komprehensif, dan ujian pustaka-komprehensif menyatu, artinya kalaupun salah di pustaka, masih ada komprehensif dimana kita bisa membela diri.
Hal lain yang juga berpengaruh adalah pemisahan PPM (produksi dan pengawasan mutu) dengan PF (Pelayanan Farmasi). Ini baru pertama kalinya oleh pihak ITB, dan ujian bagi PF juga tergolong pertama dilakukan ITB. KLemungkinan hal lain yang cukup berpengaruh adalah puasa. Kita ujian apoteker di bulan puasa, apa ga gila apa? Jadi ujian ini bikin pusing, bukan hanya peserta, tapi juga penguji.
OK, mul;ai dari persiapan. Sudah tahu ada tutorialnya, sudah dikasih tahu bahwa sebaiknya bersiap-siap dari jauh-jauh hari, tapi apa mau di kata, tubuh jauh dari Rumah, meski pikiran masih disana (Muikirin ujian dan homesick).
Pangkalnya dari semester 1 (Kliatran banget kan klo persiapan mesti dari awal2 sekali?), opik telat daftar buat KP di Industri, padahal KP di Industri adalah KP dimana kesempatan belajar untuk ujian apoteker menipis, apalagi klo dapet yang di luar Bandung (Kebetulan sekali dapat yang di luar Bandung,).
Jadilah KP Industri di Kalbe CIkarang, yang memang kesempatan untuk belajar ujian apoteker sedikit, ga ada persiapan juga sih, bahannya dalam softkopi, laptop ga ada, laptop teman pada dipakai semua (ga tahu klo di fotokopian sunken ada kopiannya waktu itu). dan jam-jam sesudah pulang dari Kalbe cuma diisi tidur dan ngobrol, lampu ga terang, jadi makin malas buat baca,jadinya kesal sendiri, padahal sudah tahu ujian di ambang mata tapi ga bisa ngerjain apa-apa. Memang sih pulang ke rumah, tapi bacanuya cuma bisa sedikit dan godaan untuk melepas apa yang tertahan selama di Cikarang gede juga (ya main, makan, dan...kegatalan disuruh orang tua).
Yosh, masa KP lewat, ujian 11 hari lagi, ngurusin sedikit logistik, dan coba simulasi ujian pustaka. yah, ternyata seminggu baru selesai, itupun analisisnya ga lengkap dikerjain, cuma sepotong, mana pustakanya amburadul juga. memang sih pakai soal yang agak susah, yaitu tablket Eperison, karena data pustakanya dikit (yang susah dulu lah, kan klo dapat yang gampang jadi sip). Sempat mau ngerjain injeksi ranitidin HCl tapi ga keburu, cuma sampai bab 1.
Salah satu hal yang gawat adalah buku pustaka, memang secara elektronik cukup, tapi yang hardkopi masa cuma FI IV + suplemen aja. Gawatnya, bibi opik yang opik sudah kontak dari jauh-jauh hari ga bisa dihubungi, entah kenapa. Sudah dicoba menghubungi kerabat yang lain yang kemungkinan tahu nomornya, tapi nomornya sama, ga berubah, dan dicoba lagi berulangkali juga tak ada hasil. Akhirnya coba ke kang Irul(kakak kelas) ama Bu Rani(tetangga sebelah), lumayan dapat bukunya (terutama Pharmaceutical Codex dan Drug info handbook, dua buku itu sakti banget). tahu kit ujian ternyata ada di fotokopian, langsung deh borong.
OK, persiapan ada, meski bisa dibilang kurang. dan akhirnya melangkah ke ujian tahap pertama. soal dapat apa ya? ternyata eh ternyata, dapat metoklopramida HCl injeksi 10 ampul. kok perasaan pernah dengar? rupa-rupanya ini pernah dikerjain pas pratikum likuid semsol bagian steril, pertama lagi. soal 53, lembar jawaban 79. OK, cukup lancar sih sebenarnya pustaka dll, soalnya datanya lengkap, jadi tinggal nulis aja. Tapi ternyata ada hambatan tak terduga dan salah antisipasi, yaitu...
Menjalani Pendidikan Profesi Apoteker
Berkaca dari pengalaman menjalani pendidikan profesi Apoteker di ITB, opik mencoba merenung dan merunut lagi jalan yang telah ditempuh.
pertama, apakah opik telah salah memilih jalan?
mengapa yang pertama adalah hal ini? Kejadiannya begini, waktu pendaftaran untuk apoteker, sebenarnya opik waktu itu tak terlalu mempertimbangkan banyak hal dan banyak diburu-buru oleh hal lain. Pendaftaran apoteker untuk oktober dibuka sehabis kita lulus sidang, dimana kita masih belibet nyelesaiin urusan administrasi hanya dalam 2-3 hari, dan pendaftaran apoteker pun dalam waktu yang mepet. Sempat sih minta pertimbangan orangtua, dan mereka malah bilang semuanya diserahkan pada opik, sesuai kemauan opik. Jadinya ya, ga sempat mikir ini itu, dan langsung mendaftar.
Padahal, dipikir2, opik sebenarnya bercita-cita jadi dosen atau peneliti yang sebenarnya ga perlu menempuh program apoteker. Apalagi di benak opik saat itu, mungkin sekali opik ga akan memilih bidang farmasi untuk melanjutkan pendidikan, tapi bidang lain yang secara teknis dekatan dengan farmasi, seperti kimia, teknik kimia, instrumentasi atau teknik industri.
Kedua, Kok program apoteker seperti ini ya?
Ini setelah kalau dirunut-runut secara mendalam, banyak sekali bagian di apoteker yang merupakan pengulangan S1, pokoknya banyak banget teori-teorinya dan idealitanya, namun kurang dalam praktek dan realita di lapangan. opik terutama merasakan sekali hal ini dalam aspek2 industri seperti permesinan, PPIC, sistem HVAC, analisis vendor, pelaksanaan CPOB dan masalahnya, pokoknya merasa kurang banget. Kliatan dan kerasa banget pas KP, kitanya suka bengong pas di tempat KP, entah itu di POM, apotek maupun pemerintahan, karena kita nggak tahu dalamnya kaya gimana sih dan kita itu mau ngapain, jadi ada kesempatan belajar dan berbuat yang tersia-siakan
salah satu hal yang membingungkan adalah, PPM (jurusan industrinya) diberikan materi klinik sedangkan PF (jurusan kliniknya) diberikan materi Industri. Alasannya sih biar seimbang antara klinik dan industrinya, soalnya kan di S1 udah diberikan materi yang cukup banyak mengenai industri atau klinik di jurusan masing-masing.
Tapi menurut opik dan banyak teman yang lain, ini malah memperlemah kekuatan masing-masing. Hal ini sangat terasa di Industri dimana ketika ditanya-tanya mengenai berbagai hal yang seharusnya didapatkan di kuliah apoteker, terpaksa kitahanya bisa terdiam saja. Mau jawab ga bisa...mau bilang ga dapet di kuliah apoteker juga malu.
Ketiga, kok ada mata kuliah atau isi kuliah yang dirasa penting ga ada?
Ini pertanyaan yang muncul setelah KP dan diskusi soal kita-kita bakal kerja dimana. Yang paling heran adalah kita ga dapat mata kuliah kimia klinik, yang berarti menghilangkan kesempatan untuk bekerja di lab-lab klinik, atau paling ga harus belajar lagi klo masuk sana, juga menyebabkan kita ga bisa membaca kondisi tubuh. DI kimia klinik kita juga diajarin pembacaan angka-angka. misalnya SGPT dan SGOT pada rentang segini adalah normal, glukosa darah segini sampai segini ga normal, dsb, yang sangat penting diketahui untuk mengetahui mana obat yang ga boleh dipakai dan penyesuaian dosisnya.
perasaam ga dapat kimkli sangat terasa ketika ujian farmakoterapi, kami-kami yang di PPM bingung ketika harus baca angka glukosa darah, PSA, SGPT, SGOT, kandungin urin, yang kita ga tahu maksudnya apa.
Salah satu hal yang juga disayangkan adalah pengewtahuan tentang CPOB, proses produksi dan mesin-mesin. PPM tidak mendapatkan matkul farmasi industri, sehingga praktis pengetahuan tentang CPOB yang praktisnya tidak ada, hanya yang mengawang-awang. ga tahu pelaksanaannya gimana sih di Industri. Dengan alasan yang sama, pengetahuan tentang proses produksi juga sedikit.
Nah, klo soal mesin-mesin dan proses yang terjadi, sedikit juga sih pengetahuannya. Proses mixing, blending, cutting, pengeringan dll. opikmingat ada 2 dosen yang naruh perhatian pada hal ini, yaitu pak sundani dan bu Ninet. Dan itu sangat beruntung sekali karena kitanya masih bisa jawab-jawab sedikitlah soal mesin dan proses serta mengerti sedikit soal proses produksi. tidak kosong-kosong bangetlah.
Keempat, dan mungkin yang terakhir, adalah jangan terbawa arus.
Mengapa hal ini jadi penting. Sebab memang sekarang farmasi klinik sedang gencar dimana-mana, teta[i, jangan lupa bagian farmasi yang lain, baik itu bahan alam, analisis maupun proses produksi. beberapa yang menjadi bahan adalah :
1.Dalam ujian di banyak PT, apoteker diuji konselingnya, tapi ga diuji apakah bisa meracik atau memproduksi obat, padahal bukannya farmasi adalah "The art of Compounding and Dispensing"? kok malah konseling yang cuma sebagian kecil dari "Dispensing" didahulukan untuk diuji, sedangkan meraciknya tidak?
2.Percaya atau tidak. Apoteker itu suka ribut. sekarang sih yang sedang gencar adalah industri dengan pelayanan. Kenapa sih ga bisa bersatu dan saling mengerti klo emang ada keluhan dari pelayanan soal produk yang ga mengerti kesulitan mereka yang sampaikan saja baik-baik. Pelayanan juga harus mengeti proses produksi obat ga mudah, dan mengubah satu hal saja dari obat bisa membutuhkan validasi proses yang rumit untuk memastikan mutu obat tetap terjamin
3.masih banyak persoalan industri jamu/pengobatan tradisional yang harus diselesaikan. Berpegang bahwa pada jamu/tradisi ini merupakan kekuatan Indonesia, sebaiknya ini yang diperkuat. Misalnya penemuan zat anti kanker pada banayk tumbuhan obat dan senyawa2 baru didalamnya, harusnya ini diperkuat, tapi kondisi sekarang malah lemah dengan banyaknya obat2 luar. Mungkin sekali, hal ini terkait kebanggan pada produk lokal yang sangat lemah. Lebih banyak menemukan : Dari Cina, Arab, Teknologi Jepang, Teknologi Jepang, terpercaya dari AS, daripada warisan karuhun, asal Madura, Asli Maluku, Tradisi Minang, dll. Yah, saatnya mempercayai kekuatan kita sendiri
pertama, apakah opik telah salah memilih jalan?
mengapa yang pertama adalah hal ini? Kejadiannya begini, waktu pendaftaran untuk apoteker, sebenarnya opik waktu itu tak terlalu mempertimbangkan banyak hal dan banyak diburu-buru oleh hal lain. Pendaftaran apoteker untuk oktober dibuka sehabis kita lulus sidang, dimana kita masih belibet nyelesaiin urusan administrasi hanya dalam 2-3 hari, dan pendaftaran apoteker pun dalam waktu yang mepet. Sempat sih minta pertimbangan orangtua, dan mereka malah bilang semuanya diserahkan pada opik, sesuai kemauan opik. Jadinya ya, ga sempat mikir ini itu, dan langsung mendaftar.
Padahal, dipikir2, opik sebenarnya bercita-cita jadi dosen atau peneliti yang sebenarnya ga perlu menempuh program apoteker. Apalagi di benak opik saat itu, mungkin sekali opik ga akan memilih bidang farmasi untuk melanjutkan pendidikan, tapi bidang lain yang secara teknis dekatan dengan farmasi, seperti kimia, teknik kimia, instrumentasi atau teknik industri.
Kedua, Kok program apoteker seperti ini ya?
Ini setelah kalau dirunut-runut secara mendalam, banyak sekali bagian di apoteker yang merupakan pengulangan S1, pokoknya banyak banget teori-teorinya dan idealitanya, namun kurang dalam praktek dan realita di lapangan. opik terutama merasakan sekali hal ini dalam aspek2 industri seperti permesinan, PPIC, sistem HVAC, analisis vendor, pelaksanaan CPOB dan masalahnya, pokoknya merasa kurang banget. Kliatan dan kerasa banget pas KP, kitanya suka bengong pas di tempat KP, entah itu di POM, apotek maupun pemerintahan, karena kita nggak tahu dalamnya kaya gimana sih dan kita itu mau ngapain, jadi ada kesempatan belajar dan berbuat yang tersia-siakan
salah satu hal yang membingungkan adalah, PPM (jurusan industrinya) diberikan materi klinik sedangkan PF (jurusan kliniknya) diberikan materi Industri. Alasannya sih biar seimbang antara klinik dan industrinya, soalnya kan di S1 udah diberikan materi yang cukup banyak mengenai industri atau klinik di jurusan masing-masing.
Tapi menurut opik dan banyak teman yang lain, ini malah memperlemah kekuatan masing-masing. Hal ini sangat terasa di Industri dimana ketika ditanya-tanya mengenai berbagai hal yang seharusnya didapatkan di kuliah apoteker, terpaksa kitahanya bisa terdiam saja. Mau jawab ga bisa...mau bilang ga dapet di kuliah apoteker juga malu.
Ketiga, kok ada mata kuliah atau isi kuliah yang dirasa penting ga ada?
Ini pertanyaan yang muncul setelah KP dan diskusi soal kita-kita bakal kerja dimana. Yang paling heran adalah kita ga dapat mata kuliah kimia klinik, yang berarti menghilangkan kesempatan untuk bekerja di lab-lab klinik, atau paling ga harus belajar lagi klo masuk sana, juga menyebabkan kita ga bisa membaca kondisi tubuh. DI kimia klinik kita juga diajarin pembacaan angka-angka. misalnya SGPT dan SGOT pada rentang segini adalah normal, glukosa darah segini sampai segini ga normal, dsb, yang sangat penting diketahui untuk mengetahui mana obat yang ga boleh dipakai dan penyesuaian dosisnya.
perasaam ga dapat kimkli sangat terasa ketika ujian farmakoterapi, kami-kami yang di PPM bingung ketika harus baca angka glukosa darah, PSA, SGPT, SGOT, kandungin urin, yang kita ga tahu maksudnya apa.
Salah satu hal yang juga disayangkan adalah pengewtahuan tentang CPOB, proses produksi dan mesin-mesin. PPM tidak mendapatkan matkul farmasi industri, sehingga praktis pengetahuan tentang CPOB yang praktisnya tidak ada, hanya yang mengawang-awang. ga tahu pelaksanaannya gimana sih di Industri. Dengan alasan yang sama, pengetahuan tentang proses produksi juga sedikit.
Nah, klo soal mesin-mesin dan proses yang terjadi, sedikit juga sih pengetahuannya. Proses mixing, blending, cutting, pengeringan dll. opikmingat ada 2 dosen yang naruh perhatian pada hal ini, yaitu pak sundani dan bu Ninet. Dan itu sangat beruntung sekali karena kitanya masih bisa jawab-jawab sedikitlah soal mesin dan proses serta mengerti sedikit soal proses produksi. tidak kosong-kosong bangetlah.
Keempat, dan mungkin yang terakhir, adalah jangan terbawa arus.
Mengapa hal ini jadi penting. Sebab memang sekarang farmasi klinik sedang gencar dimana-mana, teta[i, jangan lupa bagian farmasi yang lain, baik itu bahan alam, analisis maupun proses produksi. beberapa yang menjadi bahan adalah :
1.Dalam ujian di banyak PT, apoteker diuji konselingnya, tapi ga diuji apakah bisa meracik atau memproduksi obat, padahal bukannya farmasi adalah "The art of Compounding and Dispensing"? kok malah konseling yang cuma sebagian kecil dari "Dispensing" didahulukan untuk diuji, sedangkan meraciknya tidak?
2.Percaya atau tidak. Apoteker itu suka ribut. sekarang sih yang sedang gencar adalah industri dengan pelayanan. Kenapa sih ga bisa bersatu dan saling mengerti klo emang ada keluhan dari pelayanan soal produk yang ga mengerti kesulitan mereka yang sampaikan saja baik-baik. Pelayanan juga harus mengeti proses produksi obat ga mudah, dan mengubah satu hal saja dari obat bisa membutuhkan validasi proses yang rumit untuk memastikan mutu obat tetap terjamin
3.masih banyak persoalan industri jamu/pengobatan tradisional yang harus diselesaikan. Berpegang bahwa pada jamu/tradisi ini merupakan kekuatan Indonesia, sebaiknya ini yang diperkuat. Misalnya penemuan zat anti kanker pada banayk tumbuhan obat dan senyawa2 baru didalamnya, harusnya ini diperkuat, tapi kondisi sekarang malah lemah dengan banyaknya obat2 luar. Mungkin sekali, hal ini terkait kebanggan pada produk lokal yang sangat lemah. Lebih banyak menemukan : Dari Cina, Arab, Teknologi Jepang, Teknologi Jepang, terpercaya dari AS, daripada warisan karuhun, asal Madura, Asli Maluku, Tradisi Minang, dll. Yah, saatnya mempercayai kekuatan kita sendiri
Sabtu, 16 Juli 2011
Jangan Pernah Memberikan Suatu Hal Yang Berharga secara Gratis
Sori kali ini ga berupa tanya jawab. Mungkin ini topik yang agak kontroversial dan banyak perdebatan, tapi inilah pandangan opik.
hari ini opik baca berita di PR dimana sebuah RSU terpaksa harus menolak pasien-pasien misikin karena tunggakan utang jaminan kesehatan yang sudah mencapai miliaran. Jika tidak ada pembayaran dan pelayanan gratis terus dilakukan, ada kemungkinan RSU tersebut harus ditutup. (dalam hati, kemungkinan klo diaudit keuangan pasti ga lolos nih.)
Membaca berita ini, opik pun langsung terbayang pada kondisi yang serupa di AS, soalnya opik suka baca blognya redhead, seorang farmasis disana, yang juga mengeluhkan bahwa sistem kesehatan gratis yang dicanangkan terus menggerogoti keuangan negara dan juga merugikan para farmasis. salah satu contoh kasus adalah sering tidak terbaharuinya harga obat yang ditebuas, sehingga jika perusahaan farmasi menaikkan obat, apotek-apotek disana merugi dan beberapa bahkan bangkrut. Terlihat disini bahwa sesuatu yang gratis dibayar oleh yang lain dengan sangat mahal.
opik tidak hanya memperhatikan soal kesehatan, tapi juga soal pendidikan. Pendidikan yang dicanangkan gratis juga mencanangkan masalah, darimana gaji guru dan karyawan sekolah dibayar, bagaimana pemeliharaan bangunan, dll. opik teringat suatu cerita, di sebuah desa dahulu ada sebuah sekolah yang diusahakan secara mandiri oleh masyarakat, tiap hari, para siswa membawa secangkir beras untuk hidupnya sekolah tersebut, tapi lalu pemerintah mendirikan sebuah SD Inpres dan menutup sekolah tersebut. Masyarakat sana merasa sudah terlepas dari kewajiban mengusahakan pendidikan dan menyerahkan segalanya pada pemerintah. Nah, yang namanya SD Inpres kan susah datengin guru ke daerah terpencil, perbaikan bangunan susah, dll, dan akhirnya SD tersebut bubar.
Disini kita melihat, tidak ada sesuatu yang gratis, bahkan yang terlihat gratis sekalipun diberikan pada kita dengan mengambil harga. opik setuju dengan pendapat dosen opik yang berkata bahwa sistem yang berlaku harusnya bukan gratis, tapi murah dan bersubsidi silang. Yang mampu dan berkelebihan membayar dnegan pantas atau lebih, dan yang miskin semampunya, jangan digratiskan karena akan keenakan dan memakainya secara.
Bandingkan orang yang mendapatkan barang yang bernilai secara gratis dengan orang yang mendapatkan suatu barang yang bernilai dengan susah payah. Misalkan itu obat yang penting untuk kesembuhan dirinya. Akan terjadi perlakuan yang sangat berbeda terhadap barang tersebut. yang gratis sangat mungkin mudah sekali kehilangan dan dengan mudahnya minta ganti, sedangkan yang mendapatkannya dengan susah payah sangat mungkin membongkar rumahnya untuk mencari yang hilang itu.
hari ini opik baca berita di PR dimana sebuah RSU terpaksa harus menolak pasien-pasien misikin karena tunggakan utang jaminan kesehatan yang sudah mencapai miliaran. Jika tidak ada pembayaran dan pelayanan gratis terus dilakukan, ada kemungkinan RSU tersebut harus ditutup. (dalam hati, kemungkinan klo diaudit keuangan pasti ga lolos nih.)
Membaca berita ini, opik pun langsung terbayang pada kondisi yang serupa di AS, soalnya opik suka baca blognya redhead, seorang farmasis disana, yang juga mengeluhkan bahwa sistem kesehatan gratis yang dicanangkan terus menggerogoti keuangan negara dan juga merugikan para farmasis. salah satu contoh kasus adalah sering tidak terbaharuinya harga obat yang ditebuas, sehingga jika perusahaan farmasi menaikkan obat, apotek-apotek disana merugi dan beberapa bahkan bangkrut. Terlihat disini bahwa sesuatu yang gratis dibayar oleh yang lain dengan sangat mahal.
opik tidak hanya memperhatikan soal kesehatan, tapi juga soal pendidikan. Pendidikan yang dicanangkan gratis juga mencanangkan masalah, darimana gaji guru dan karyawan sekolah dibayar, bagaimana pemeliharaan bangunan, dll. opik teringat suatu cerita, di sebuah desa dahulu ada sebuah sekolah yang diusahakan secara mandiri oleh masyarakat, tiap hari, para siswa membawa secangkir beras untuk hidupnya sekolah tersebut, tapi lalu pemerintah mendirikan sebuah SD Inpres dan menutup sekolah tersebut. Masyarakat sana merasa sudah terlepas dari kewajiban mengusahakan pendidikan dan menyerahkan segalanya pada pemerintah. Nah, yang namanya SD Inpres kan susah datengin guru ke daerah terpencil, perbaikan bangunan susah, dll, dan akhirnya SD tersebut bubar.
Disini kita melihat, tidak ada sesuatu yang gratis, bahkan yang terlihat gratis sekalipun diberikan pada kita dengan mengambil harga. opik setuju dengan pendapat dosen opik yang berkata bahwa sistem yang berlaku harusnya bukan gratis, tapi murah dan bersubsidi silang. Yang mampu dan berkelebihan membayar dnegan pantas atau lebih, dan yang miskin semampunya, jangan digratiskan karena akan keenakan dan memakainya secara.
Bandingkan orang yang mendapatkan barang yang bernilai secara gratis dengan orang yang mendapatkan suatu barang yang bernilai dengan susah payah. Misalkan itu obat yang penting untuk kesembuhan dirinya. Akan terjadi perlakuan yang sangat berbeda terhadap barang tersebut. yang gratis sangat mungkin mudah sekali kehilangan dan dengan mudahnya minta ganti, sedangkan yang mendapatkannya dengan susah payah sangat mungkin membongkar rumahnya untuk mencari yang hilang itu.
Langganan:
Postingan (Atom)